Ka’bah dan Topo Ngrame

Orang yang kelas beribadahnya sudah sampai tataran S3 bahkan S4, tentu sudah tidak perlu lagi tempat dan alat tertentu untuk menggabungkan diri dengan Allah SWT. Ia juga tidak perlu lagi, misalnya, harus menyepi, mencari tempat sunyi “hanya” untuk sekadar agar dapat lebih “khusyu” menemui Allah. Ia tidak perlu lagi harus membawa tasbih kemana pun ia pergi, atau bahkan alat tertentu untuk menghitung jumlah kalimat dzikir yang berbunyi “cethakcethik” hingga membikin Malaikat terkagum-kagum dan kemudian tertawa melihat alat itu.

Dalam tradisi Jawa ada istilah “Topo Ngrame”, yakni sebuah kemampuan spiritual yang luar biasa untuk mengingat dan melihat Allah di berbagai situasi dan kondisi apapun, entah itu di pasar, di toko, mal, hotel, bahkan di lokalisasi sekalipun. Artinya ia sudah sekelas Khalifah Ali yang ketika melihat daun jatuh ke bumi saja, beliau langsung dapat melihat Allah SWT. Demikian pula, dalam mendirikan tempat ibadah, umat Islam juga tidak perlu meniru biara atau kuil shaolin, yakni memilih tempat di puncak gunung atau di tengah hutan yang jauh dari keramaian manusia. Karena bagi Islam, Allah SWT ada di mana-mana, bahkan sangat dekat dengan urat leher kita.

Karenanya saya juga tidak heran ketika datang ke tanah suci dan kemudian melihat Masjidil Haram beserta Ka’bah, saat ini sudah dikepung oleh bangunan-bangunan menjulang langit. Karenanya, saya juga bisa memahami jika ada seorang teman yang merasakan bahwa ia seperti sedang sholat di tengah rimba beton Tokyo, Hongkong atau New York ketika sholat menghadap kiblat di Masjidil Haram.

Para ahli tata kota dan tata rancang bangunan di Arab Saudi nampaknya sudah memahami nilai spiritual Topo Ngrame ini, sehingga dalam merancang bangunan-bangunan di sekitar Masjidil Haram, mereka tidak perlu mengharamkan bangunan-bangunan komersil. Masjidil Haram sudah disepakati para ahli tersebut, dalam radius tertentu (misalnya) tidak harus steril dari keramaian dunia, seperti arena-arena perdagangan.

Dengan cara seperti ini maka setelah selesai sholat, para jamaah Masjidil Haram dapat langsung berbelanja atau menikmati hidangan ala Barat di sekitarnya Mereka nampaknya juga sepakat bahwa Ka’bah tidak harus lebih tinggi dari bangunan-bangunan di sekitarnya. Silakan bangunan-bangunan komersil menjulang tinggi mengepung Ka’bah, dan nanti boleh jadi Ka’bah akan nampak seperti dasar sumur yang dindingnya adalah bangunan-bangunan komersil tersebut. Para ahli tata bangunan juga sangat yakin bahwa hotel di tanah haram ini tidak akan pernah digunakan (misalnya) untuk selingkuh sambil melihat Ka’bah di bawahnya, dan ia lalu tertawa dengan penuh kemenangan.

Kita juga tidak boleh curiga bahwa ini adalah ulah keluarga kerajaan yang mungkin senang mendendangkan lagu “kemesraan ini janganlah cepat berlalu” dengan negara-negara kapitalis maju. Kita juga tidak boleh curiga kalau kebanyakan minuman atau makanan yang berada di sekitar Masjidil Haram ini datang dari negeri Barat tertentu, dan itu berarti bukan dalam rangka bersekutu dengan keluarga kerajaan misalnya. Kita juga tidak boleh curiga bahwa ini juga merupakan suatu usaha terstruktur rapi untuk mendesakralisasi Ka’bah atau situs-situs yang pernah digunakan Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Tujuannya agar kelak “tidak ada bukti” bahwa Rasulullah telah menyebarkan Islam dengan cara damai dan berbudaya.

Islam adalah kekuatan besar, dan kekuatan itu hanya dapat dikalahkan dengan cara memangku atau “menyolu” mereka, bahkan kalau perlu  membutatulikan mereka dengan cara-cara halus yang terlihat Islami. Tujuannya, agar umat hanya sibuk menyembah syariat belaka tanpa mampu mendayagunakan Islam di berbagai lapangan kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi.