Evolusi Spiritual

Evolusi kesadaran spiritual itu berjalan bertahap, dan terhadap hal itu kita bisa belajar dari apa yang terjadi pada tergelarnya alam.

Kehadiran pengurus Nahdlatul Muhammadiyin di hadapan para jamaah mengawali Mocopat Syafa’at 17 Maret 2012. Pak Mustofa W. Hasyim dan Pak Marzuki tampil ke depan untuk memberikan gambaran tentang kedudukan dan ruang gerak atau aktivitas Nahdlatul Muhammadiyin selama ini dan yang akan datang. Di samping agar keberadaan Nahdlatul Muhammadiyin tidak menimbulkan problem sosial dan psikologis di antara sangat banyak kelompok, pada kesempatan Mocopat Syafa’at malam itu dibukalah ruang diskusi dan komunikasi seputar visi dan kiprah Nahdhatul Muhammadiyin.

Bahwa Nahdhatul Muhammadiyin itu ibarat garam, sehingga fungsi dan peruntukannya adalah memberi nuansa dan ikut andil dalam membangun “citarasa”. Nahdhatul Muhammadiyin tidak berkehendak untuk menyaingi Nahdhatul Ulama ataupun Muhammadiyah atau organisasi-organisasi sebelumnya yang telah ada. Pada prinsipnya, Nahdlatul Muhammadiyin adalah gerakan ijtihad yang mengedepankan prinsip “Arab e digarap, Jowo ne digowo” (yang Arab — Islam, dikerjakan/diamalkan; yang Jawa, budaya/local genius — dibawa juga).

Hal-hal penting yang disampaikan oleh Pak Marzuki sebagai salah seorang pengurus Nahdlatul Muhammadiyin di antaranya adalah pelaksanaan konsep ekonomi “lumbung amanah”, yaitu sebuah gagasan mengenai metode pengelolaan ekonomi warga melalui upaya pemberdayaan yang mengedepankan rasa kebersamaan sosial. Konsep ini telah mulai dilakukan di beberapa daerah di Jogja dengan model kemitraan dalam pelaksanaannya di lapangan. Nahdlatul Muhammadiyin tidak memilih idiom “daerah binaan” untuk menghindari kesan atasan-bawahan, bos-kuli, dan sejenisnya. Dalam kaitannya dengan apa yang dilakukan itu, Nahdlatul Muhammadiyin menurut Pak Marzuki tidak muluk-muluk dan lebih berharap agar apa yang dilakukan dengan Nahdlatul Muhammadiyin itu akan bisa menutup “celah-celah kecil” dari sekian banyak dan besarnya problematika yang ada di masyarakat. Dalam kesempatan itu juga disampaikan rencana penerbitan jurnal Nahdhatul Muhammadiyin pada bulan April mendatang.

Pada kesempatan awal dalam Mocopat Syafa’at malam itu juga dibacakan reportase Majelis Ilmu Padhangmbulan Februari 2012 yang lalu yang ditulis oleh Prayogi R. Saputra. Reportase tersebut berisikan materi-materi yang disampaikan oleh Cak Nun dan Cak Fuad dalam pengajian Padhangmbulan tersebut. Dengan cara ini diharapkan para jamaah di Mocopat Syafaat juga bisa mengikuti materi-materi tersebut.

Pukul 22:55 Cak Nun mengajak seluruh hadirin bersholawat yang kemudian langsung disambung dengan memperkenalkan para pendukung acara pementasan teater Perdikan “Nabi Darurat Rasul Ad Hoc”.

“Kalau ada suatu performance tidak melibatkan perempuan, maka hampir bisa dipastikan performance itu tidak akan bertahan lama dan ditinggalkan penonton. Inilah prinsip seni pertunjukan modern yang kapitalistik. Maka drama kita kemarin itu membatalkan kepercayaan-kepercayaan kapitalistik,” ujar Cak Nun. “Tapi semua yang kita capai harus kita hancurkan sendiri dan kita rusak lagi agar kita bisa mencapai yang lebih baik lagi,” Sambung Cak Nun.

Tidak seperti Mocopat Syafa’at sebelumnya yang selalu ditemani oleh KiaiKanjeng, Mocopat malam ini KiaiKanjeng sengaja tidak menyapa jamaah dengan lantunan musiknya. Sebagaimana disampaikan oleh Cak Nun bahwa KiaiKanjeng esok paginya (18 Maret 2012) harus menghadiri sebuah acara di Semarang sehingga perlu waktu untuk beristirahat.

Cak Nun sepertinya ingin mengajak hadirin dan para pendukung pergelaran teater Nabi Darurat Rosul Ad Hoc untuk melakukan refleksi dan pembacaan kembali terhadap muatan utama atau inti nilai di dalamnya.

Saya sendiri merasa bahwa pergelaran yang naskahnya ditulis oleh Cak Nun tersebut tetap konsisten dengan apa yang diyakini Cak Nun dengan konsep “Sastra Yang Membebaskan” yang ditulisnya pada era 80-an yang lampau atau percikan pemikiran-pemikiran beliau dalam ” Terus Mencoba Budaya Tanding”. Sastra dan seni adalah sebuah metode yang karena itu maka dalam setiap karya-karyanya Cak Nun selalu berangkat dari apa yang beliau lihat dan beliau cermati dari dinamika sosial, politik dan budaya yang sedang berkembang di masyarakat ketika itu. Dalam beberapa karyanya, Cak Nun malahan mendesain karya itu sebagai “jendela” untuk memberi sinyal-sinyal tertentu yang berhubungan dengan akan datangnya sebuah peristiwa atau fenomena tertentu di masyarakat.

Malam itu Cak Nun mengajukan pertanyaan filosofis kepada Sabrang, putranya, “urip ki jane kon ngopo?” (Hidup itu sebenarnya buat apa? Mau ngapain?). Pertanyaan singkat itu dijawab dengan singkat pula oleh Sabrang, “kon munggah drajat — untuk menapaki derajat”. Cak Nun mengejarnya dengan pertanyaan lagi, “pilihane munggah drajat kuwi opo? njur nek diteruske, munggah drajat kuwi teko ngendi?” (pilihan untuk naik derajat itu apa saja? Lantas kalau diteruskan, naik derajat itu sampai di mana?).

Ben nyawiji ( untuk menyatu/manunggal dengan Tuhan)”, jawab Sabrang.

Munggah drajat kuwi tegese (naik derajat itu maksutnya) anda menyatu dengan Allah. Maka ketika anda menyatu itu rambutmu, badanmu, hartamu, dan seluruh duniamu ikut nggak? Jadi kenapa kalian mati-matian membela namamu?”, urai Cak Nun meneruskan jawaban Sabrang. Untuk memahami perihal “nyawiji” ini, Sabrang menambahkan bahwa wajah manusia dan segala penampakan lahiriah manusia hanya efektif pada vibrasi tertentu yang tidak bersifat tetap dalam jangka waktu dan pada penggalan ruang tertentu sehingga apa yang lahiriah itu tidak akan mampu untuk masuk pada frekuensi “nyawiji”.

Perlu suatu kesadaran atau barangkali kebangkitan spiritual untuk memahami hal ini. Karenanya, manusia tidak boleh berhenti untuk selalu mencari dan memaknai sebab roh hidup itu berlapis-lapis. “Jangankah roh, air saja berlapis-lapis. Misalnya apa beda air dengan es? Maka kalau anda tidak melakukan pencarian-pencarian terhadap tauhid, anda akan kabotan uripmu (hidupmu memberatimu). Jadi yang penting itu terus mencari, bukan berhasil atau tidak. Yang diinginkan Allah itu engkau bergerak menjalani pencarian itu atau tidak?” terang Cak Nun.

Cak Nun meneruskan dengan menanyai salah seorang jama’ah, “Kamu siapa?”

“Said,” jawab jama’ah itu.

“Benar kamu Said? Jadi Said itu kamu? Yakin kamu?,” tanya Cak Nun lagi.

Si jama’ah hanya thilang-thileng (terbengong-bengong).

Kalau dalam cara berfikir tauhid, jawaban si Said itu belum sampai pada kebenaran yang sejati sebab, “tidak ada sesuatu pun selain Engkau”.

Menyambung pembicaraan ini, Sabrang menambahkan bahwa evolusi kesadaran spiritual itu berjalan setahap demi tahap, dan terhadap hal itu kita bisa belajar dari apa yang terjadi pada tergelarnya alam. Dalam sistem tata makhluk hidup kita mengenal perkembangan dari tahap mikroorganisme sederhana menuju berangsur-angsur ke yang lebih rumit. Tumbuhan hanya mempunyai kecenderungan, hewan punya naluri, kemudian manusia punya akal, kesadaran dan naluri. Lalu karena memiliki akal itulah, manusia mempunyai pilihan.

Melengkapi penjelasan Sabrang, Cak Nun memaparkan, “Allah menciptakan cahaya, cahaya menciptakan struktur tata nilai dari situ kemudian kita mengenal tata ruang dan tata waktu dan akhirnya kita punya kehendak. Tetapi kehendak itu harus selalu engkau komunikasikan dengan laisa kamitslihi syai’un. Dari kesadaran ini lalu kita akan mengerti bahwa di dunia ini tidak ada kebesaran, karena yang ada hanyalah kasus tertentu pada momentum tertentu. Kita harus belajar dari analogi peristiwa yang terjadi antara gajah-semut dan manusia. Siapa yang lebih menang dan unggul dari ketiganya?”

Lebih menukik lagi, Cak Nun menyatakan bahwa penghuni surga adalah orang yang berbuat baik kepada Allah karena melayani orang lain, sementara penghuni neraka adalah orang yang berbuat baik kepada Allah tapi sesunguhnya dia sedang ingin melayani dirinya sendiri.

Mocopat Syafa’at kali ini juga mempersilahkan Pak Joko Kamto, Patub, Eko Winardi dan Mas Bambang Susiawan serta beberapa pendukung pergelaran teater Nabi Darurat Rosul Ad Hoc yang lain turut serta mengemukakan pengalaman dan kesannya masing-masing dalam proses pementasan yang masih terus berjalan ini. Pada intinya, semuanya memperoleh pemahaman yang sama bahwa hidup harus terus belajar dan tak berhenti pada apa yang sudah ada. Hidup harus terus belajar dan “nglakoni” (melakukan/menjalankan/mengamalkan).

Kemudian di penghujung acara, Pak Mustofa W. Hasyim tampil membawakan pusinya. Ada yang lain dari puisi-puisi beliau malam itu. Kalau sebelumnya Pak Mustofa dikenal dengan puisi “rusak-rusakan” nya, pada Mocopat Syafa’at kali ini beliau membawakan puisi yang lebih “serius”. Simak saja penggalan puisi beliau ini :

…rakyat mengganjal perutnya dengan kerupuk dan udara
Rakyat kehilangan jalan raya, pelabuhan…
Kemudian rakyat kehilangan ibunya, bapaknya… kehilangan dirinya sendiri.
Yang tersisa hanya kehampaan….