Bersedekah Pada Indonesia

Yang dimaksud dengan bersedekah kepada Indonesia adalah melakukan sesuatu yang bersifat akseleratif bagi terjadinya perubahan di Indonesia.

Cahaya kasih sayang menaburi malam
Hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan
Alam raya, cakrawala pasrah dan sembahyang

Yang palsu ditanggalkan yang sejati datang
Yang dusta dikuakkan, topeng-topeng hilang
Jiwa sujud, hati tunduk pada-Mu Tuhan

Beribu hamba-Mu bernyanyi rindu
Bergerak menari bagai gelombang
Sepi mereka karena dipinggirkan
Oleh kedzaliman kekuasaan dan kesombongan

Suara mereka merobek langit
Bergolak suara sunyi mereka semua
Waktu berhenti, alam menanti
Tuhan kekasih akan mengakhiri

Kekasih mendampingi setiap langkah
Pada laparmu, cinta-Nya merekah
Tataplah wajah-Nya, hatimu pun cerah
Lihatlah,lihatlah mentari baru

Yang terbit dari dalam tekadmu
Sesudah senja diujung duka
Nikmatilah mengalirnya cahaya
(Padhang mBulan)

Lantunan merdu lagu berjudul Padhang mBulan membuka forum Macapat Syafa’at 17 Juni 2012 kali ini. Karakter dan tekstur suara Mbak Novia membuat lagu tersebut makin mempunyai “ruh” tersendiri. Bukan karena memang Mbak Novia adalah “penyanyi sungguhan” tetapi karena Mbak Novia membawakan lagu tersebut dengan sepenuh penjiwaan sehingga lagu itu tidak hanya keluar sebagai “bunyi” atau kata-kata yang dilagukan, tetapi berhasil mengkonstruksikan barisan-barisan kalimat puitis sehingga menggiring pendengar untuk menghidupkan teater of mind dalam dirinya. Sedemikian luluhnya Mbak Novia menghayati kebersamaan malam itu hingga pada lagu kedua yang ia nyanyikan, Mbak Novia tidak bisa meneruskannya karena tak kuasa membendung air mata yang terus mengalir dari kelopak mata beliau.

Cak Nun langsung membuka acara dengan mengingatkan seluruh jama’ah mengenai pentingnya “paseduluran”. “Nek sedulur ki nek kowe ngalami angel, nek kowe ngalami luwe, ngalami opo wae masalah, ingatlah bahwa kita mengalami bersama” (persaudaraan itu kalau engkau mengalami kesulitan, mengalami kelaparan, mengalami masalah apapun, tetap ingatlah bahwa kita mengalami bersama). Anda semua mengalami pengalaman yang bermacam-macam dan berbeda-beda tetapi kita harus tetap berjalan,” demikian Cak Nun mengawali forum.

Intinya adalah bahwa setiap jama’ah agar selalu yakin dengan apa yang sedang dilalui dan dihadapinya sebab segala yang terjadi sesungguhnya adalah suatu gerak menuju Tauhid. “Nabi Muhammad diutus ke dunia dibekali dengan Al Qur’an sebagai fasilitas manusia untuk meraih Tauhid. Al Qur’an adalah piranti yang mengakselerasi segenap proses manusia menuju pencapaian Tauhid tersebut. Nabi Musa dan Nabi Nuh diberi umur hingga ribuan tahun sebab kaum mereka harus mencari sendiri (tanpa “panduan” kitab suci),” urai Cak Nun dengan analogis.

Pada sesi awal itu Cak Nun kembali mempertegas pesannya bahwa dengan belajar dari Dajjal yang tak mampu memasuki Makkah dan Madinah, itu seharusnya memberi pelajaran kepada kita semua yaitu jika kita ingin menang dari tipu daya Dajjal maka kita harus membangun “Makkah” dan “Madinah” di dalam diri kita. Melanjutkan pembicaraan malam itu, Cak Nun mengemukakan dua istilah, yaitu: PIGS dan Arab Spring. Istilah pertama mengacu pada 4 negara Eropa, Portugal, Italia, Greece (Yunani) dan Spanyol. Sementara istilah kedua adalah semacam adagium untuk menunjukkan fenomena terkini dari pertumbuhan ekonomi negara-negara Arab. Dua istilah ini muncul sebagi bentuk penyikapan terhadap adanya kecenderungan menurunnya perekonomian Eropa dan perubahan signifikan dalam ekonomi di Jazirah Arab.

Dituturkan oleh Cak Nun bahwa berhembusnya dua gejala dan kecenderungan itu akhirnya mendorong diskusi serius di antara para intelejen dan pihak-pihak “penting” di dunia untuk melakukan penyikapan-penyikapan. Apa yang sedang terjadi di beberapa negara Arab yakni pergolakan politik yang hingga sekarang masih terjadi kemudian melahirkan beberapa rencana dan skenario, terutama menyangkut model kepemimpinan yang akan diterapkan pada negara-negara yang kini sedang mengalami pergolakan politik itu. “Apakah negeri-negeri Islam itu akan ikut seperti Turki, Pakistan, Libanon, Aljazair, Iran, Irak atau Indonesia? Nah, dari beberapa model pemerintahan yang disimulasikan tersebut akhirnya model yang sekarang sedang diterapkan di Indonesia diyakini merupakan model kepemimpinan politik dan pembangunan yang paling baik dan cocok untuk diterapkan di negara-negara Arab tersebut,” Cak Nun memaparkan.

Kemudian beliau menyambungnya dengan pertanyaan, “Kok bisa Indonesia yang mau dijadikan rujukan dan model? Kok bisa? Coba anda perhatikan, sekarang anda sedang ditipu secara konstruktif oleh segala sesuatu yang mengaku sebagai modernisasi, sebagai demokrasi dan sebagainya. Indonesia ini sedang “seneng-senenge diapusi” (girang-girangnya dibohongi). Apa yang sedang terjadi disini sekarang ini adalah berlakunya suatu formulasi pembodohan yang luar biasa. Lalu sekarang apa yang sedang dipraktekkan di tempat kita ini akan diterapkan di negara-negara Arab itu,” urai Cak Nun. Paparan tentang kondisi terkini yang berlangsung di Arab dan hubungannya dengan posisi politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia hari-hari ini disampaikan oleh Cak Nun untuk menjembatani komunikasi dengan jama’ah Maiyah yang malam itu hadir di Macapat Syafa’at.

Menurut Cak Nun, orang-orang Maiyah sudah agak berbeda. Orang Maiyah sudah mempunyai ketahanan mental hingga tingkat tertentu untuk bersikap secara proporsional dan tepat menghadapi gejala apapun dalam hidupnya. Orang Maiyah sedang dan akan terus mengalami spiritual enlightment, mental enlightment dan cultural enlightment sehingga memiliki keteguhan pribadi dan ketenangan untuk melalui apapun yang akan dijalaninya. Meskipun hidup masih dikepung dan menghadapi berbagai kesulitan, tapi cara orang Maiyah menghadapi kesulitan itu telah berkembang. Nah, masalahnya sekarang Anda mau sedekah pada Indonesia atau tidak?” demikian Cak Nun mengelaborasi.

Yang dimaksud dengan bersedekah kepada Indonesia adalah melakukan sesuatu yang bersifat akseleratif bagi terjadinya perubahan di Indonesia. Untuk ini Cak Nun mengibaratkan, “kalau bersedekah itu ibarat kompetisi atau turnamen apakah dalam rangka membenahi Indonesia ini anda ikut turnamen apa nggak? Bakri ikut turnamen, Prabowo ikut turnamen, Paloh ikut turnamen. Anda akan memilih ikut turnamen apa tidak?” tanya Cak Nun kepada hadirin. Pertanyaan ini kemudian menjadi ruang interaktif dan dialogis dengan jama’ah. Seorang jama’ah dari Semarang berpendapat bahwa separah apapun keadaan Indonesia, kita mestinya ikut mengubah Indonesia minimal dari diri kita dan keluarga kita sendiri. Kemudian, Amin seorang jama’ah dari Surabaya berpendapat lain. Menurutnya kita tidak perlu ikut berkompetisi karena “gondelan klambine Kanjeng Nabi” adalah sudah merupakan setinggi-tingginya pencapaian.

Menanggapi beberapa sikap dari jama’ah ini, Cak Nun meresponnya dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu, “Kalau kita katakan Indonesia sekarang ini penyakitan, tingkat penyakitnya kira-kira bagaimana? Complicated. Nah, kira-kira bisa disembuhkan tidak? Bisa, asal bersama. Oke… Bersama siapa? Mau bersama siapa anda menyembuhkan penyakit yang tingkat komplikasinya telah sedemikian akut ini? Dengan siapa anda akan melakukan perubahan? Mungkin benar ada banyak orang yang ingin perubahan, tapi perubahan yang bagaimana? Perubahan dari belum berkuasa menjadi ikut berkuasa? Perubahan dari belum dapat bagian menjadi ikut mendapat jatah kekuasaan? Atau bagaimana?,” tanya Cak Nun kepada seluruh jama’ah.

Kemudian Cak Nun memperjelas pemetaan mengenai kondisi “sakit” yang dialami oleh Indonesia sekarang ini. “Di wilayah mana yang tidak ada suap? Anda bisa percaya nggak ada kantor birokrasi yang tidak korupsi? KPK menerima 60.000 kasus, Ini butuh berapa tahun untuk menyelesaikannya sedang kita tahu untuk 1 kasus saja butuh beberapa tahun dan tidak terjamin akan selesai dengan tuntas,” sambung Cak Nun.

Melanjutkan pembicaraan, Cak Nun mengajukan pandangan bahwa setidaknya hal penting untuk memulai melakukan perubahan itu adalah dengan membangun sebuah model dan strategi kepemimpinan, salah satunya yaitu dengan melahirkan pemimpin yang berkapasitas Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu. Pemimpin yang tidak hanya memiliki kecerdasan dalam segala level dan skala namun juga yang dianugerahi petunjuk Tuhan di dalam setiap apa yang dilakukannya sehingga berhasil mencapai tingkat “sembodo” atau istiqomah dalam menjalankan tugas yang dibebankan oleh rakyat sebagai amanat Tuhan dengan selalu menyandarkan diri pada kebenaran yang sejati dan menjunjung dan memuliakan martabat manusia.

“Kalau ada pemimpin seperti ini, bisa nggak mempengaruhi pemberesan masalah? Kalau misalnya bisa, bagaimana caranya ada pemimpin seperti ini? Mampu tidak rakyat Indonesia memilih pemimpin yang seperti ini? Rakyat kebanyakan, kelas menengah? Mampu tidak mereka memilih pemimpin yang baik seperti itu? Maka, kita akan bersedekah tapi kita akan merumuskan bagaimana formulasi yang akan kita gunakan untuk bersedekah pada Indonesia. Jama’ah Maiyah harus berpikir serius sebab hingga tahun 2014 besok tidak akan ada apa-apa dalam dinamika politik di sini sebab bangsa Indonesia telah mampu hidup dalam kebusukan. Dengan demikian mari kita terus menerus berfikir dan berupaya agar bisa melahirkan pemimpin yang baik. Semoga Allah membimbing kita dan seluruh rakyat Indonesia untuk melahirkan kesadaran terhadap apa yang sungguh-sungguh baik,” demikian Cak Nun mempungkasi uraiannya pada sesi ini.

Macapat Syafa’at 17 Juni 2012 kali ini yang mengambil tema Al-Ma’thur Al-Mai’yah makin terasa penuh dengan nuansa ilmu dengan kehadiran Letkol Suhardi, komandan Grup II KOPASSUS Kandang Menjangan Kartasura, Surakarta. Hadir pula Ibu Nely bersama beberapa mahasiswi dari Amerika yang sedang melakukan penelitian agama dan budaya di Indonesia, lalu ada Cak Priyo Al-Jabar seorang jama’ah Maiyah dari Bang-bang Wetan Surabaya dan tak ketinggalan Sabrang (Noe) Letto bersama teman-teman Letto lainnya.

Kedatangan LetkolSuhardi dari KOPASSUS di samping bersilahturahmi dengan Cak Nun dan seluruh keluarga Macapat Syafa’at juga sekaligus meminta Cak Nun dan Kiai Kanjeng mengisi acara peringatan Isra’ Mi’raj di markas KOPASSUS Kandang Menjangan Kartasura, Surakarta pada tanggal 29 Juni 2012 yang akan datang. Pak Hardi juga mengundang serta kehadiran seluruh Jama’ah Maiyah untuk hadir di acara itu. Sedangkan Ibu Nely dan beberapa mahasiswa sengaja hadir ke acara Macapat Syafa’at malam itu bersama beberapa mahasiswinya dari Amerika yang sedang ingin belajar tentang NU dan Muhammadiyah. “Kalau kalian ingin mengetahui perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, belum lengkap kalau kalian belum datang kepada Cak Nun. Maka malam ini mereka semua saya bawa ke “festival” Cak Nun malam ini,” demikian Bu Nelly menjelaskan apa yang disampaikan kepada para mahasiswa Amerika yang hadir di forum Macapat Syafa’at malam itu.

Sesi ini diselenggarakan secara dialogis agar terjadi dialog dan komunikasi antara hadirin dan para mahasiswa dari Amerika yang malam itu. Pak Totok yang memoderatori sesi ini kemudian mempersilahkan para jama’ah untuk mengajukan pertanyaan agar terjalin komunikasi dengan para tamu. Beberapa pertanyaan dari jama’ah kepada para mahasiswi Amerika mengemuka dan mayoritas dari pertanyaan itu lebih bersifat klarifikatif. Misalnya menyangkut adanya kesan atau perasaan inferior bangsa Indonesia dihadapan Barat. Ada seorang jama’ah bertanya, “Mengapa kami sering merasa direndahkan oleh bangsa Barat? Penanya lain mengajukan pertanyaan, “Di dunia ini banyak kelompok-kelompok dalam Islam tapi kenapa Anda tertarik mempelajari kelompok Islam di Indonesia? Dari mana anda tahu NU dan Muhammadiyah? Kami ini sering diteliti sehingga itu artinya kami dijadikan obyek penelitian. Apakah itu artinya kita lebih rendah dari bangsa Anda?”

Secara bergantian para mahasiswa memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka kadang-kadang saling melengkapi jawaban yang diberikan oleh kawan mereka. Terhadap pertanyaan dari jama’ah, para mahasiswa Amerika tersebut menjelaskan bahwa adanya kesan inferioritas dan superioritas antara bangsa Indonesia dengan bangsa Amerika atau dengan bangsa Barat lainnya adalah karena bangsa Amerika dan bangsa Barat belum mengenal banyak tahu tentang Indonesia. Disampaikan pula bahwa pasca terjadinya peritiwa 11 September di Amerika beberapa tahun silam telah menimbulkan pandangan yang tidak baik tentang Islam di Amerika. Jadi mereka datang ke sini untuk mengenal Islam lebih banyak dari dekat.

Secara kualitatif momentum seperti ini pasti sangat konstruktif untuk membangun keadaan yang egaliter dan equal antara kedua bangsa melalui suatu dialog yang terbuka dan konstruktif. Pada jangka panjang tentu hal-hal seperti ini dibutuhkan oleh bangsa kita dalam proses pembentukan mental dan cara pandang yang setepat-tepatnya terhadap kedudukan bangsa kita di hadapan bangsa-bangsa lain tanpa dihantui oleh prasangka dan sejumlah sentimen-sentimen atau persoalan psikologis, politis dan kultural lainnya.

Tidak banyak penjelasan verbal dan normatif yang disampaikan Cak Nun menanggapi keingintahuan para mahasiswa Amerika mengenai perbedaan NU dan Muhammadiyah. Di tengah-tengah diskusi antara hadirin dan para tamu, Cak Nun kemudian mengajukan pertanyaan kepada seluruh jama’ah, “Siapa dari anda yang berlatar belakang NU? Kemudian siapa dari anda yang berlatar belakang Muhammadiyah? Nah, anda tahu sendiri kan? Seluruh yang hadir di sini ini berasal dari banyak latar belakang. Tidak hanya NU dan Muhammadiyah tapi anda yang berasal dari kelompok-kelompok lain tapi sesungguhnya perbedaan itu tidak akan menjadikan kami terpecah-belah. Ini hanyalah salah satu cara kami untuk bersama-sama mencari cara agar bisa hidup dalam harmoni dan kesalingmengertian satu sama lain,” terang Cak Nun.

Ketika tiba waktunya Cak Priyo Al-Jabar diberi waktu untuk berbicara, momentum ini menjadikan suasana yang berbeda pada Macapat Syafa’at 17 Juni 2012. Dengan artikulasi, logat dan dialek khas Jawa Timur-an yang lugas, terbuka dan apa adanya beliau berbagi ilmu dengan para jama’ah mengenai bagaimana kita ber-Islam. Cak Priyo mengajak hadirin untuk ber-Islam dengan cara yang sederhana, yaitu melalui suatu sistem dan cara ber-Islam yang pandai mengamalkan sedikit ilmu dengan konsisten dan sungguh-sungguh. Cak Priyo membuat analogi, “ada seseorang yang dianggap soleh karena sejak kecil hidup dalam lingkungan yang agamis”.

Orang yang dalam sebagian besar waktu dalam hidupnya kebetulan berada pada wilayah dan keadaan yang membuat ia senantiasa berada pada lingkungan pondok pesantren lalu ia menjadi manusia baik dan taat misalnya, itu belum tentu lebih mulia dibandingkan dengan seseorang yang biasa-biasa saja pengetahuan dan amal agamanya. Dengan kata lain belum tentu orang yang mampu naik sekian meter dari laut lebih hebat dari orang masih berada di tengah-tengah lautan. Itu karena orang relatif sangat mudah untuk naik karena titik keberangkatan yang memungkinkannya untuk lebih cepat dan mudah bergerak, sedangkan orang yang mampu bangkat dari ceruk dasar laut adalah sebuah keluarbiasaan.

Jadi, menurut Cak Priyo, yang dinilai oleh Tuhan itu bukan sampai dimana/seperti apa engkau sekarang tapi bagaimana proses yang engkau jalani hingga sampai pada pencapaianmu sekarang ini. Pada bagian lain, secara berkelakar Cak Priyo menyebutkan, “Sekolah iku gak penting. Pengen bukti lek sekolah iku gak penting? Ngerti Ken Arok? Ngerti Gajah Mada? Kon ngerti lek Ken Arok ambek Gajah Mada iku lulusan S1? (Sekolah itu tidak penting. Mau bukti kalau sekolah itu tidak penting? Tahu Ken Arok dan Gajah Mada’kan? Memangnya mereka berdua lulusan S1?) makanya sekolah itu pemelintiran,” kata Cak Priyo dengan goyunan khas Jawa Timuran yang kental.

Lalu ia menyambung, “Orang sekarang itu salah memahami perintah Agama. Kenapa? Kalau dalam Kitab Suci itu kan kita disuruh iqra’, disuruh tadabbur, disuruh memperhatikan, artinya kita disuruh belajar. Lha orang sekarang kok slogannya “Ayo sekolah!”, seharusnya itu slogannya “Ayo belajar”, gitu dong,” demikian disampaikan Cak Priyo disambut tawa hadirin.

Sabrang malam itu lebih banyak bertindak sebagai translator dan penghubung komunikasi antara hadirin dengan para mahasiswi Amerika karena kemampuan berbahasa Inggris yang dikuasainya. Pada bagian akhir forum, Pak Mustofa W. Hasyim membacakan puisi berjudul “Seandainya Bank Dunia Dipimpin oleh Penyair”.

Menjelang pukul 03.00 dini hari, KiaiKanjeng membawakan tembang “Gugur Gunung” yang sekaligus mempurnakan malam silahturahmi dan berbagai ilmu di forum Macapat Syafa’at 17 Juni 2012 kali ini. Kemudian, Cak Nun menyempurnakannya dengan mengajak seluruh hadirin untuk berdiri dan berdoa bersama.