Urip mung Sakdremo Nglakoni

Kulo mung sakdremo nglakoni (sekedar menjalankan perintah Allah SWT). Keinginan terbesar pada maqom ini adalah: tidak ingin memiliki keinginan sama sekali.

Terus terang, setiap kali berbicara dan berhadapan dengan Jamaah Maiyah Gambang Safaat (GS) setiap tanggal 25 setiap bulannya, hati ini selalu tergetar, merinding, bahkan sering nervous. Padahal saya terbiasa berbicara di hadapan para pejabat tinggi baik di tingkat Jawa Tengah maupun Kabupaten Kota. Saya juga pernah menghadap dan berbicara langsung pada pejabat setingkat menteri, pernah berbicara langsung kepada gubernur, bupati atau walikota, dsb, namun semuanya saya lalui dengan tenang, tanpa rasa takut sedikit pun.

Namun begitu berhadapan dengan jamaah GS, suasana jadi lain, persis merasa berhadapan dengan kesejatian. Padahal para anggota GS “hanya” para mahasiswa, pengangguran, tukang becak, bakul pecel, bahkan ada orang gila (sungguhan). Berhari-hari saya selalu merenung, mengapa hal ini dapat terjadi? Saya sedikit mendapat jawaban ketika iseng-iseng omong-omong dengan salah satu anggota jamaah GS, yakni seorang tukang becak dari Grobogan (yang jauhnya lebih dari 50 km dari Kota Semarang).

Tukang becak ini begitu rajin, datang ke forum GS, dan ketika saya tanya mengapa? Jawabnya hanya singkat: saya tenteram dan damai mas jika hadir di GS ini. Padahal omongan di GS ya hanya itu-itu saja, apalagi jika yang omong sekelas saya, Om Budi atau Pak Ilyas. Namun bagi tukang becak tersebut, yang dicari bukan hanya soal mutu omongan kami, namun “aura” cinta dan keikhlasan yang senantiasa hadir dan ditaburkan para jamaahnya. Ketika saya tanya lagi, apakah penjenengan tidak kesulitan mendapatkan biaya untuk datang ke Semarang ? Jawabnya juga singkat: Mas Gusti mboten sare. Kulo mung sakdremo nglakoni (sekedar menjalankan perintah Allah SWT). Dia merasa disuapi Gusti Allah dalam setiap langkahnya. Jadi jawaban atas kegelisahan saya adalah bahwa saya sedang berhadapan dengan cahaya Allah dan para kekasih Allah.

Orang-orang GS seperti tukang becak tersebut sangat banyak, mereka tidak saja datang dari Kendal, Demak, Ungaran, namun juga jauh dari Muntilan, Magelang, atau Purwodadi, dan sebagainya. Rata-rata jawaban mereka juga sama dengan si tukang becak tersebut. Mereka makin paham bahwa dalam Jamaah Maiyah tidak ada “ustadz” dan “murid”, tidak ada penceramah atau aktor tunggal, namun semuanya melebur jadi satu. Jadi suatu jamaah “sesungguhnya”, karena tidak sekedar kumpul, tapi paham dari hati ke hati antara satu jamaah satu dengan jamaah lainnya.

Artinya dalam mengartikan kata jamaah, mereka tidak terjebak dalam fenomena umum seperti jamaah sholat, yang sesungguhnya mereka hanya sedang sholat bareng, dan setelah itu tercerai berai dalam urusan masing-masing. Dalam jamaah sholat boleh jadi yang kebetulan bertindak sebagai imam adalah kepala Satpol PP misalnya, dan makmumnya adalah para pedagang kaki lima. Usai sholat jamaah (tepatnya “sholat bareng”), bisa saja langsung terjadi kejar-kejaran lagi diantara mereka sambil mengayunkan pentungan. Jadi sholat berjamaah hanya sekadar momen “gencatan senjata”.

Sebaliknya, dalam jamaah maiyah, aura jamaah sesungguhnya benar-benar muncul. Meski kalau diperhatikan sungguh-sungguh, suara sholawatan mereka umumnya banyak yang sumbang, omongannya fals, atau ngalor-ngidul tanpa logika, namun ada kekuatan lain yang mampu menggetarkan jiwa ini: yakni cinta dan keikhlasan mereka. Itulah pantulan cahaya Allah.

Para jamaah maiyah sungguh beruntung, karena mereka dianugerahi dan disuapi Allah dengan kecerdasan sejati. Mereka boleh jadi lebih cerdas dan beruntung dari siapapun, termasuk para pejabat atau kaum hartawan. Mereka begitu mudah dan murahnya mendapatkan Tuhan-nya, sementara para pejabat atau hartawan tak kunjung ketemu Tuhan-nya meski berkali-kali naik haji, nyumbang masjid sambil dishooting TV, atau harus mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk mengikuti kursus sholat khusuk dan kursus ESQ di hotel berbintang lima. Sebaliknya jamaah maiyah langsung “on” begitu hadir di arena diskusi GS. Mereka langsung ketemu Allah dan rasulullah di hatinya. Mereka langsung menyusu pada Tuhan-nya, persis sesuai janji Allah bahwa AKU begitu dekat bahkan ada di urat lehermu.

Para jamaah maiyah juga lebih kaya dari para hartawan di negeri ini karena dengan keterbatasan materi, justru tanpa pamrih mereka sanggup membayar angkutan atau beli bensin untuk datang ke acara GS, bahkan selalu menyumbang untuk keperluan umat, sementara para pejabat atau hartawan harus meminta dulu secara paksa kepada Ibu Pertiwi, baik dengan korupsi atau mencuri susu Ibu Pertiwi.

Gaji atau penghasilan mereka yang tinggi akhirnya tidak dapat menghalangi untuk terus mengkorup uang negara karena ada sindrom “ilusi kesuksesan hidup”. Tentang sindrom ini, ada sebuah ilustrasi, misalnya beberapa bulan yang lalu tatkala bursa saham di Amerika rontok, stres juga melanda banyak orang. Misalnya selama dua pekan ini Kathryn Morrison beserta suaminya tidak dapat tidur nyenyak, makan tidak enak, dan stres berkepanjang seiring mulai bergugurannya harga saham di bursa dunia. Bagi orang yang hidup dengan penghasilan hanya Rp 50.000,00, atau bahkan kurang, tentu tidak mengerti terhadap “kelakuan” orang-orang kaya semacam Morrison. Padahal Morrison memiliki aset kekayaan hingga 2 juta dollar AS.

Banyak orang kaya yang kita duga sangat bahagia, ternyata kebalikannya. Ia harus tergantung obat tidur atau obat penenang. Benar kata orang Jawa “urip kudu sawang sinawang”. Kasus Morrison dan orang-orang kaya lainnya membenarkan ungkapan “adol dawet rengeng-rengeng, numpak Mercy mbrebes mili”. Lihat lah tukang becak yang begitu lelap “mlungker” di becaknya semalaman tanpa terganggu arus lalu lintas di jalanan.

Tentu tulisan ini tidak menganjurkan para pembaca menjadi tukang becak atau adol dawet, namun hanya sekadar ajakan untuk “sawang sinawang”, dan tidak “rakus”. Tulisan ringan ini hanya ingin menjelaskan sebuah ilusi orang-orang kaya.

Logic of Perfection dan Logic of Discovery

Banyak orang mengatakan bahwa sukses diibaratkan dengan menaiki anak tangga. Sukses adalah kondisi telah mencapai apa yang diinginkan. Sukses adalah ketika sudah menjadi direktur, menteri, presiden atau pejabat tinggi lainnya. Sukses diangankan dan tercapai jika sudah memiliki kekayaan sekian puluh milyar. Padahal setelah sampai apa yang diinginkan tersebut, semuanya berakhir tanpa makna karena memang hidup bukan sekadar logic of perfection namun lebih bermakna jika sampai pada logic of discovery demikian kata Prama.

Dalam logika kesempurnaan semua hal dibandingkan dengan apa-apa yang kita nilai sempurna. Namun karena awal dan akhirnya tidak jelas maka frustrasi mudah timbul. Karenannya, kebahagiaan hidup akan lebih ditentukan oleh sejauhmana kita mampu menemukan (discovery), sebagaimana dialami anak sedang belajar berjalan. Ia tidak memikirkan jatuh dan bangunnya, namun hanya berpikir alangkah nikmatnya belajar berjalan.

Hedonisme dan konsumtivisme, adalah produk-produk dari kapitalisme. Kota bukan lagi menjadi locus urbanitas, melainkan sebuah arena untuk bertransaksi untuk memanfaatkan keunggulan aksesibilitas, baik pada jaringan komunikasi, transportasi, dan birokrasi. Berbagai iklan komersial mampu membentuk berbagai image dalam konteks fetishism of commodity atau “pemberhalaan komoditas”. Masyarakat terlibas dalam derap kapitalisme menjadi konsumeris yang berarti bersekutu dengan apa yang terpapar di depan mata, tanpa keinginan untuk mempertanyakan dan tanpa daya untuk menolak.

Kapitalisme telah merasuk ke dalam cara pandang yang menghalalkan cara untuk mencapai tujuan, termasuk dengan menggunakan berbagai kekerasan. Kehidupan di perkotaan kemudian tidak lain adalah kehidupan dalam hukum rimba. Karenanya kota-kota besar umumnya menyimpan banyak konflik, kerkerasan dan kriminalitas. Realitas sosial kota-kota di Indonesia dibangun atas kemajemukan yang memiliki bidang singgung berupa tempat bersama, baik formal maupun informal. Bidang singgung inilah yang seharusnya berwujud dalam institusi-institusi dan organisasi masyarakat.

Ilusi Kesuksesan Hidup

Orang barangkali heran mengapa para pejabat dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan, dengan berbagai fasilitas luar biasa hingga kekayaannya mencapai angka puluhan milyar rupiah, toh masih tega juga mengkorupsi uang rakyat. Logikanya, dengan kekayaan yang ia miliki, mestinya akan memuaskan dahaga hidupnya. Pertanyaannya, mengapa orang yang bertambah kekayaannya, justru semakin haus untuk mereguk yang lainnya?

Pertanyaan ini dijawab dengan baik oleh ekonom Inggris Fred Hirsch. Menurut Hirsch, justru dengan semakin kaya seseorang, akan merangsang nafsunya untuk terus menambah kekayaannya. Penjelasan Hirsch cukup simpel : orang yang bertambah kekayaannya terus akan mengejar kekayaan yang lain, karena orang lain di sekitarnya juga terus menangguk “kesuksesan” hidup. Dalam posisi seperti ini, maka kekayaan yang ia dapatkan seolah-olah (sekali lagi : seolah-olah) tidak berarti baginya.

Ia yang sudah naik mobil seharga 500 juta rupiah, atau memiliki rumah seharga 10 milyar rupiah misalnya, namun karena di sekeliling tempat kerjanya ada yang naik mobil Jaguar seharga 2 milyar rupiah dan puluhan rumah senilai ratusan milyar rupiah, belum lagi tanah perkebunan, bahkan pulau pribadi, dan sebagainya, misalnya, maka Altis dan rumah 10 milyar itu seolah “tidak ada artinya”.

Padahal dari kacamata awam, mobil seharga 150 juta rupiah saja sudah cukup nikmat untuk bepergian. Dengan kata lain “kesuksesan” hidup atau good life (istilah Hirsch) nyaris hanya sebuah ilusi belaka. Antara kekayaan yang dimiliki dan keinginan terus berkejaran tiada henti bagai lingkaran setan yang terus membelenggunya.

Mereka yang dicontohkan di atas tergolong orang-orang yang terbelenggu oleh kemilau duniawi. Padahal kata para sufi seperti Abdul Qodir Jaelani, Jalaluddin Rumi, Rabiah, dsb, jika seseorang sudah “berjumpa” dengan Tuhannya, maka ia akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Keinginan yang terbesar orang yang sudah sampai pada tataran atau maqom ini adalah: “tidak ingin memiliki keinginan sama sekali”.

Kalaupun ia dianugerahi kekayaan dari Alloh SWT, ia enjoy saja. Kekayaan itu tidak akan membelengggunya. Ia akan menafkahkan kepada siapa saja, menaburkan kepada alam semesta, kepada sesama, tanpa beban dan tanpa harapan untuk “pahala”. Ia akan menggunakan secukupnya (tentu sesuai standar normal orang hidup), dan sisanya yang terbesar akan dikembalikan kepada pemilikNYA, lewat amal jariyah yang terus mengalir tiada henti, tanpa takut ia akan jatuh miskin.

Orang yang sudah sampai tataran “hilangnya” keinginan (duniawi), akan tenteram jiwanya. Ia sangat menikmatui “perjumpaannya” dengan sang khalik, dan orang Jawa bilang sudah dapat menuju ke arah “manunggaling kawulo gusti”. Tuhan senantiasa ada di dalam hatinya dan selalu memberi berkah. Orang yang sampai pada tataran ini tidak ada lagi kata : milikmu dan milikku, namun semua milik Tuhan.

Kalau orang mampu menghayati sedikit saja jalan ini, maka hati akan tenang, jiwa menjadi bersih, muka berseri-seri, dan segala keinginan untuk berbuat jahat akan hilang karena Tuhan bersama kita dan selalu mengerti kebutuhan kita, karena sesungguhnya Tuhan adalah “juragan” rezeki kita, bukan atasan atau yang lainnya. Bagaimana orang-orang super kaya dan para koruptor? Setuju?