Urip Manunggal Gusti

Manunggaling kawulo lan gusti berarti, jika engkau mencintai Allah, berarti harus pula mencintai ciptaanNya. Urip Manunggal Gusti.

Maiyah Gambang Safaat 25 Nopember 2011 yang lalu benar-benar mencatat rekor karena berlangsung nyaris sampai subuh datang, ”gara-gara” tangisan Mas Sugiyono, tukang becak dari Demak yang demikian setia ber-maiyah di GS. Malam itu para jamaah juga mendapat rejeki dari Allah karena Letto juga turut menaburkan cahaya cinta. Benar-benar malam yang penuh rahmat dan barokah. Para malaikat berseliweran mengikat hati para jamaah agar tetap terpelihara dalam ketauhidan sekaligus merekatkan cintanya pada kekasih Allah, Rasululullah SAW. Rasanya tidak mungkin mencintai Allah tanpa membayangkan orang yang mengenalkan allah kepada kita, yakni Rasululllah SAW.

Cak Nun juga mengingatkan agar Allah tetap dijadikan tuan rumah dan Rasululllah sebagai penjaga pintunya. Hanya Allah SWT yang boleh masuk dalam hati kita, sedangkan dunia dilarang keras memasukinya kecuali dalam relevansinya dengan Allah. Orang Jawa bilang “manunggaling kawulo gusti”. Sebuah ungkapan filsafati-teologis yang luar biasa dahsyatnya. Manunggaling kawulo gusti berarti, jika engkau mencintai Allah, berarti harus pula mencintai ciptaanNya. Jika para pemimpin bilang cinta dan taat kepada Allah, maka ia harus cinta kepada rakyatnya. Jika ini diingkari, maka rasa cinta itu hanya palsu.

Para pejabat di Barat, termasuk Jepang dan Korea, yang tidak pernah mengklaim Pancasilais, justru lebih “islami” dari kita yang setiap tahun pergi haji, rajin kursus ESQ dan sholat khusuk. Misalnya mereka langsung mundur jika merasa gagal dalam menjalankan tugas. Benar kata Gunnar Myrdall, bahwa kita adalah bangsa yang lembek, atau soft state. Berbagai kasus korupsi dan ketidakprofesionalan terus mendera mereka. Hampir tidak ada institusi kita yang tidak cacat dalam menjalankan tugasnya, bahkan termasuk KPK, Mahkamah Konstitusi, atau partai “Islam” yang selalu mengklaim meletakkan Allah di dalam ideologi partainya yang katanya dipercaya sangat bersih itu.

Jika manunggaling kawulo gusti diamalkan, mestinya harus ada ikatan batin antara pemimpin dan yang dipimpin. Dalam pustaka politik moderen yang dikembangkan di Barat, misalnya oleh Ronald Pennock dalam Democratic Political Theory (1979). Dalam buku tersebut ia mengingatkan bahwa setiap pengaturan politik yang tangguh, lebih-lebih yang demokratis, memerlukan “ikatan” bersama yang antara lain berupa kesetiaan dasar. Namun Pennock menegaskan bahwa kesetiaan yang hakiki adalah ikatan yang didasarkan atas sesuatu yang lebih menggerakkan perasaan, yang hangat dalam lubuk jiwa dan nurani, daripada hanya berdasarkan seperangkat prosedur belaka. Bagi kita jamaah Maiyah, yang dimaksud Pennock tersebut dapat kita terjemahkan bahwa Allah harus senantiasa mengisi hati kita.

Di negara-negara liberal sebagaimana diajarkan JJ. Rousseau dkk, dikatakan bahwa pengertian Negara diartikan hanya sebatas perjanjian antarindividu yang bebas untuk melindungi hak asasinya. Dengan demikian negara merupakan social-contract vertrag. Dari falsafah ini muncul istilah pemerintah dan yang diperintah. Hubungan ini bersifat timbal balik, sehingga agar negara dapat berfungsi, diperlukan kebebasan berpendapat, yang dicapai dengan cara volonte generale dan bukan volonte de tous lagi.

Alhamdulillah, sebenarnya dalam pembukaan UUD 45 sudah disinggung tentang Allah. Dalam Pembukaan UUD 45, para Founding Fathers dengan jelas merumuskan: “Negara berdiri atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas”.

Dari konstruksi rumusan tersebut nampak bahwa Negara bukan perjanjian antarindividu (apalagi partai politik) atau perjanjian timbal balik (vertrag), namun merupakan sebuah kesepakatan satu tujuan (gesamt-akt). Akibat lebih jauh, dalam pengertian tersebut tidak ada yang namanya “pemerintah” dan “yang diperintah”, namun yang ada hanyalah rakyat dan “penyelenggara negara atas nama rakyat”.

Dengan demikian Negara mestinya mengatasi semua paham atau golongan, dan agar falsafah ini berjalan baik, maka pejabat harus merupakan penjelmaan cita-cita rakyat. Prof. Soepomo pernah memperkenalkan istilah negara integralistik, yang intinya mestinya tidak akan ada perbedaan pandangan antara negara (pemerintah penyelenggara negara) dengan rakyat, karena penyelenggara negara itu atas nama rakyat. Karenanya, pemerintah mestinya seorang pemimpin yang sejati, yakni yang mampu menjadi penunjuk ke arah cita-cita bersama yang adil. Dengan demikian ada keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos, serta ada kemanunggalan antara “kawulo” dan “gusti”.

Penyelenggara negara atau pemimpin sejati mesti rajin memeriksa denyut nadi masyarakat yang “mempekerjakannya” sebagai pemimpin, dan di ujungnya pemimpin harus memberi bentuk (gestaltung) kepada rasa keadilan dan cita-cita rakyat.

Jangan Menyelingkuhi Allah

Manunggaling kawulo gusti mestinya juga sebuah dialektika, bahwa ketauhidan itu juga harus horizontal, sekaligus vertikal. Dalam term kepemimpinan, maka harus ada penyatuan atau integrasi sosial antara yang dipimpin dan yang memimpin. Kekayaan Negara, perangkat pemerintahan, sistem demokrasi, dst, adalah serangkaian syariat yang harus “ditransformasikan menjadi cahaya”. Ini sebuah tauhid ba-syariyaah yang mesti mencair dan melembut, menelusup ke sel-sel darah dan hati kita semua. Semua yang bersifat materi ditransformasikan menjadi cahaya Allah.

Tauhid ba-syariyah akan awet. Amanah kepemimpinan diputar dan dienergikan untuk menjadi bentuk perohanian horizontal sekaligus vertikal. Kekerasan lambang kematian karena jenazah itu kaku dan keras. Sebaliknya kelembutan. Energi kepemimpinan harus diabadikan. Yang terjadi di negeri ini, kita sangat rajin berucap, Allah ada di hati kita, apalagi para pemimpin sangat fasih ber “assalamualaikum” ketika berpidato, namun ujungnya tetap menyelingkuhi Allah. Ketika anda mengatakan “I Love You” kepada isteri anda, ucapan ini tentu berlaku kapan saja dan dimana saja, demikian cerita Cak Nun. Jadi tidak bisa ketika di rumah bilang I love you, dua jam kemudian ketika berada di kantor kesadaran itu hilang, apalagi jika dalam waktu yang lama. Kalau di rumah I love you, tentu di kantor, di jalan, di hotel, atau di mana saja, kesadaran I love you itu terus ada di dalam hati anda. Jika kesadaran itu hilang, sehingga isteri anda tidak menjadi pertimbangan dalam memutuskan sesuatu, apalagi anda I love you dengan wanita lain, maka ini namanya sudah khianat dan dalam bahasa gaulnya disebut selingkuh.

Hal yang sama juga berlaku I love you kepada Allah. Ketika syahadat, ketika sholat, ketika di Masjid, kita selalu bilang I love you kepada Allah. Hal yang sama juga harus terjaga. O ya, apakah kita yang sejak lahir sudah taken for granted sebagai muslim sudah pernah berucap sahadat dengan sadar dan diucapkan secara khusus seperti seorang mualaf ? Nampaknya belum. Sahadat kita hanya konsekuensi dari ibadah sholat kita dst. Wajar jika Allah sering hilang, meski hanya sepersekian detik dari kesadaran kita, padahal pada detik itu kita sedang menandatangani kuitansi proyek ratusan miliar misalnya.

Jika Tuhan hilang sepersekian detik saja dari kesadaran kita, maka kita juga selingkuh. Padahal Tuhan begitu dekat, bahkan di urat leher dan nadi kita. Dalam Islam dikatakan Allah Swt ada di dalam setiap hati yang beriman, dan dalam pandangan kaum Nasrani : ”Kerajaan Alah ada di dalam hatimu”

Hilangnya Allah dari kesadaran hidup kita merupakan hal yang “wajar”, karena manusia adalah tempat lupa dan manusia itu lemah. Yang penting kesadaran untuk selalu menghadirkan Allah harus selalu dilakukan. Jangankan kita orang awam, manusia sekelas Nabi Musa saja pernah “lupa” kepada Tuhan meski sepersekian menit. Sahdan ketika Musa dan bala pasukannya tengah dikejar oleh Fir`aun, mendadak perut Nabi Musa sakit yang luar biasa. Musa kemudian mengadu kepada Allah. Setelah itu muncul suara gaib agar dia naik ke gunung dan makan daun-daunan. Musa langsung berlari mendaki gunung, dan sebelum sampai menggapai dedaunan, sakitnya sembuh total.

Pada hari yang lain, Musa juga mengalami sakit perut yang serupa. Tanpa basa-basi Musa langsung naik gunung dan makan daun sebanyak-banyaknya, namun sakit perut itu tidak kunjung sembuh. Musa langsung protes kepada Allah, mengapa tidak seperti dahulu langsung sembuh. Allah pun menjawab “Hai Musa, ketika pertama kali kamu sakit perut, kamu masih sempat mengaduh kepadaKu. Namun pada sakit perut yang kedua, engkau langsung saja nyelonong tanpa ingat kepadaKu. Apa kau kira yang menyembuhkanmu itu daun itu ? Terserah Aku mau menyembuhkanmu lewat perantaraan daun, batu, kayu atau yang lainnya”.

Cerita ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini, yang berkuasa adalah Allah dan sebagai umat kita diwajibkan untuk selalu menyertakan dalam setiap gerak langkah, agar hidup kita dituntun ke jalanNya. Jika setiap saat kita merasa diawasi Allah, maka kita akan malu untuk berbuat jahat atau korup.

Karenanya, para koruptor itu orang yang sedang selingkuh terhadap Allah, karena dia melakukan perbuatan yang tidak disukai Allah. Dalam diri para koruptor Allah dianggap tidak ada, atau setidaknya dianggap tidak melihat. Padahal uang yang dikorup itu juga milik Allah SWT. Allah tentu “tertawa” melihat ulah koruptor ini, yakni memindah uang dari kas negara ke dalam rekening pribadinya. Uang milik Allah ini tidak hilang namun hanya berpindah tempat. Allah tentu bertanya: apa yang dapat kau curi dariKu?

Ini berbeda dengan kaum sufi, di mana mereka sangat merindukan kepada sesuatu yang absolut yakni Tuhan. Mereka menomorsatukan Tuhan di atas segala sesuatu yang lain. Menjadi sufi bukan berarti meniadakan dunia, namun upaya bagaimana tangan tetap bekerja, sementara hati terus menyatu kepadaNya. Menurut Al Ghazali, pengetahuan diri yang sejati terdiri dari pengetahuan tentang : siapa dirimu, darimana kamu berasal, hendak kemana dan tujuan apa kamu tinggal disini untuk sementara waktu? Terdiri apa saja kebahagianmu dan penderitaanmu ? dst. Orang yang sampai pada tataran sufi, bisa jadi penampilannya biasa-biasa saja, sama dengan tetangga kiri kanannya, namun batin mereka berseri-seri karena kehadiran Tuhan.

Ada empat tingkatan untuk menjadi seorang sufi, yakni: tingkatan pertama adalah syariah, yang berisi landasan moral atau etika, dan ini ditemukan pada semua agama. Dalam bahasa Arab syariah berarti “jalan”, jalan untuk menuju kebenaran sejati. Tingkatan yang kedua adalah tariqah. Secara harfiah tariqah berarti jalan menuju gurun pasir yang dilalui suku Badui. Karena melalui gurun, maka jejak menjadi tidak terlihat. Tariqah merupakan laku batin agar jiwa orang menjadi bersih dan murni. Tingkatan ketiga adalah haqiqah yang memuat pengalaman langsung atas kehadiran Tuhan ke dalam diri. Tanpa pemahaman batin ini, laku atau ajaran yang diikuti hanya mekanis sifatnya. Sedangkan tingkatan paling tinggi adalah ma’rifah yang lebih dari sekadar pengalaman spiritual sesaat. Dalam tingkatan ini keselarasan dengan Tuhan dan kebenaran akan terus menerus berlangsung.

Dalam tingkatan syariah “rumus” yang berlaku adalah: milikmu dan milikku. Yakni hukum yang menjamin hak-hak individu dan hubungan etika diantaranya. Pada tingkatan tareqah berlaku rumus: milikku adalah milikmu dan milikmu adalah milikku. Disini ada hubungan persudaraan yang kental. Pada tingkat haqiqah rumusnya: tidak ada milikku dan tidak ada milikmu. Ini tingkat kesadaran bahwa manusia tidak memiliki apa-apa karena semuanya hanya milik Tuhan. Manusia hanya mengemban amanah, dan ini melampaui terhadap pengikatan diri terhadap duniawai, pangkat, jabatan, ketenaran, kekayaan, dst. Sedangkan pada level ma’rifah rumusnya: “tidak ada aku dan tidak ada kamu“, karena yang ada hanyalah Tuhan.

Kita harus meyakini cinta dan kekuatan Allah, dan maiyah yang kita lakukan ini hanya satu tujuannya yakni agar Allah dan kekasihNya menjadi tuan rumah hati kita. Kita amat kecil dan lemah hingga keluatan Allah yang kita pegang teguh dalam Maiyah. Untuk diteerima Allah syarat hanya keikhlasan, karena apapun kejadian di dunia ini tidak membuat kita “patheken“, asal Allah tidak marah kepada kita. Kalau ini dipenuhi, maka Allah akan menganugerahkan kemenangan, kasih sayang dan pertolongan.

Jamaah mesti tulus lelaku wiridnya, menempuh maiyah, melewati dunia, menuju Allah. Benar-benar sohibu baiti. Ya Allah Engkaulah tuan rumah hatiku.