Nek Dadi Ojo Dudu, Nek Dudu Ojo Dadi

Cak Nun menegaskan bahwa kita harus jelas. Karena, seringkali sesuatu yang dadi (jadi), ternyata dudu (bukan), sementara yang dudu malah dadi.

Sebelum Mocopat Syafaat malam ini berlangsung, di salah satu ruang TKIT Alhamdulillah Kasihan Bantul, Cak Nun menerima tamu dari Hizbut Tahrir Yogyakarta, majalah Tamaddun dari BMT Tamziz Wonosobo, dan majalah IDEA Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang.

Sejak setahun ini, Hizbut Tahrir Yogyakarta telah mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Pesantren Panotogomo, yang berlokasi di Purwanggan dan Banguntapan Yogyakarta. Pendidikan yang dikemas pun bercorak modifikatif termasuk dengan mempertahankan materi-materi salaf semisal kitab-kitab kuning. Seperti tergambar dari namanya, pesantren ini dimaksudkan untuk memiliki wawasan budaya yang diterjemahkan ke dalam kurikulum dan aktivitas sehari-hari para santrinya. Dalam bingkai gagasan itulah, rombongan HTI Jogja yang dipimpin Mas Yoyok serta beberapa ustadz yang sehari-hari mengampu di pondok pesantren tersebut berniat ngangsu kawruh kepada Cak Nun tentang bagaimana melangsungkan pendidikan kepesantrenan yang tidak abai pada budaya.

Merespons maksud tersebut, Cak Nun memberikan positioning bahwa pesantren HTI ini dirintis dalam zaman di mana manusia terlahir dalam tamaddun (peradaban) yang terpecah-pecah. Maka, saran Cak Nun, pesantren ini haruslah disadari dan diniatkan sebagai ikhtiar untuk mengutuhkan anak didik atau santri dari keterpecahan-keterpecahan itu. Itulah salah satu makna tawhid yang tak hanya berdimensi vertikal, tetapi juga horisontal. Dalam makna horisontal ini, tawhid dipahami sebagai keharusan agar manusia satu sama lain tidak boleh saling meniadakan dengan semua ragam potensi yang dimilikinya.

Sementara itu, terkait dengan kurikulum dan metode pendidikan, Cak Nun memberi masukan supaya selain metode halaqoh atau metode klasikal juga perlu diperbanyak metode workshop agar para santri memiliki proses untuk menjadi dirinya sendiri dan mampu mengekspresikan diri, tak hanya menjadi sasaran satu arah dari para guru atau ustadz. Anak-anak hendaknya juga dirangsang untuk aktif “ngobrol” dengan Allah. Seturut dengan frame mengembalikan keterpisahan dan makna tawhid tadi, Cak Nun menegaskan bahwa dari manapun dimulainya–apakah dari kitab kuning, melukis, belajar Hadis, dan lain-lain–yang terpenting adalah mereka diajak untuk menemukan keterkaitan komprehensif dari semua hal.

Selain HTI Yogyakarta, majalah Tamaddun yang dikelola BMT Tamzis Wonosoba juga bermaksud interview kepada Cak Nun ihwal nasib pedagang-pedagang tradisional yang terancam oleh modal-modal besar seperti terlihat dari maraknya pusat-pusat perbelanjaan franchise.

Sementara saya masih menemani Cak Nun menerima para tamu itu, terdengar dari venue Mocopat Syafaat teman-teman aktivis KMS (keluarga Mocopat Syafaat) sudah memulai acara secara interaktif dengan para jamaah, dan kelompok hadroh dari Stikes Alma Ata Yogyakarta baru saja selesai mempersembahkan satu dua nomor Shalawat.

Hujan deras yang mengguyur belahan bumi Yogyakarta sejak sore hingga lepas isya’ malam itu tampaknya tak menghalangi langkah para jamaah untuk tetap mengikuti majelis rutin bulanan ini. Mereka telah memahami bahwa hujan adalah rahmat, sebagaimana berkali-kali ditegaskan Cak Nun di banyak kesempatan. Itulah sebabnya, jamaah Mocopat Syafaat yang berdatangan dari berbagai daerah di DIY, Jateng, dan Jatim ini telah memadati pelataran TKIT bahkan sejak sesi tadarrus atau pembacaan Al-Qur’an berlangsung.

Sampai pukul 23.00 malam, acara diisi sepenuhnya oleh KMS dengan pelbagai informasi dan dialog dengan sesama jamaah. Salah satunya dibahaslah tema “reproduksi” dengan pemrasaran PIK-KRR Stikes Alma Ata Yogyakarta. Tema ini sendiri juga mengingatkan kita akan wacana ‘produksi’ dan ‘reproduksi’ (utamanya dalam konteks paradigma pendidikan) yang diusung oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh di Mocopat Syafaat sekian waktu lalu.

Sedikit balik ke tamu Cak Nun malam itu, Cak Nun menyatakan bahwa dirinya tidak paham betul soal ekonomi. Maka, dirinya sempat bertanya sedikit apa beda BMT dengan Bank Syariah. “Nah kalau soal Bank Syariah saya ada sedikit cerita. Saya pernah diundang acara di Bank Mandiri Syariah. Saya ada pertanyaan yang mereka kesulitan menjawab. Kan ada dua: bank Mandiri dan Bank Mandiri Syariah. Pertanyaan saya adalah yang Bank Mandiri tadi itu syariah apa bukan,” cerita Cak Nun.

Cak Nun lantas menggambarkan betapa susah berjuang di zaman sekarang. “Orang-orang yang anda sebut kapitalis itu juga alim-alim dan punya majelis pengajian,” tutur Cak Nun kepada Majalah Tamaddun. Kalau mau bicara pasar bebas, masih tegas Cak Nun, pasar bebas yang bersifat Islam itu ya pasar di mana orang-orang bertemu untuk menentukan batas. Dalam konteks sejarah Islam, pasar bebas yang seperti itu ada pada masa Islam Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah. “Umat Islam sekarang masih sibuk pada tahap Mekkah, dan begitu menjelang masuk Madinah sudah ditabrak kekuatan-kekuatan modal internasional…,” jelas Cak Nun.

Seperti diterangkan Tamaddun, BMT sendiri berbadan hukum sebagai koperasi. Itulah sebabnya kemudian Cak Nun menyarankan agar BMT lebih memperkuat hakikat BMT sebagai koperasi itu sendiri. “Apalagi koperasi itu dalam bahasa Arab adalah “syirkah” yang serumpun dengan kata “masyarakat” yakni persyarikatan di antara orang-orang karena sekarang nggak ada masyarakat,” imbuh Cak Nun.

Selebihnya, Cak Nun menyarankan agar BMT lebih ke dalam introspeksi seberapa kadarnya ia berada dalam sistem kapitalisme dan seberapa tidak. “Sebab sebenarnya tidak gampang kita bisa mengurai kapan kita kapitalis kapan kita tidak. Sebab sebenarnya ekonomi adalah bidang yang paling rawan, sehingga sangat diperlukan regulasi aqidah dan moralnya,” papar Cak Nun.

Malam ini Mocopat Syafaat benar-benar padat. Jamaah duduk saling merapat. Pun tak ketinggalan mereka yg tak kebagian tempat sehingga harus berdiri berderet di belakang pagar dan menenuhi jalanan kampung. KiaiKanjeng pun telah naik ke panggung. Pak Toto Rahardjo memandu jalannya acara. Pertama-tama, Pak Toto meminta KiaiKanjeng untuk mempersembahkan satu atau dua nomor. Dipilihlah Medlei Jogja sebagai nomor pembuka. Bagian awal dari nomor ini adalah segmen musikal bertajuk “Daeng Wirobrojo” yang mengilustrasikan barisan pasukan Keraton. Menyambung medley ini, KiaiKanjeng yang malam ini tampil tanpa Mas Jijid dan Mas Giyanta karena sedang berada di Abu Dhabi untuk melatih karawitan di sana, segera membawakan “Gugur Gunung” karya Ki Narto Sabdo.

Baru beberapa saat dimulai Gugur Gunung ini, Ibu Novia Kolopaking menyusul naik ke atas panggung dan menembangkan satu lagu berbahasa Inggris yang dilanjut Mas Imam dengan lagu berbahasa India. Selanjutnya, Ibu Via bersama seluruh vokalis KK bersama-sama membawakan lagu berbahasa China, dan ini masih dalam rangkaian Gugur Gunung. Semua jamaah asyik mengikuti dan menikmati, tak peduli dingin masih mengitari mereka.

Lepas dari persembahan awal Kiai Kanjeng, Pak Toto menyampaikan sejumlah pengantar, dan tak lupa memberikan bingkai bagi kehadiran seniman Tanto Mendut yang juga telah berada di atas panggung menemani Pak Toto saat itu. Mas Tanto Mendut sendiri datang bersama istri dan beberapa temannya yang akan bertukar cerita tentang Merapi dan lahar dingin. Itulah sebabnya Pak Toto sempat menyebut tema malam ini adalah “lahar dingin dan kebohongan”. Yang belakangan ini terkait dengan puisi yg bakal dibacakan penyair Maiyah Mustofa W. Hasyim di hadapan sidang jamaah Mocopat Syaafat malam itu.

Tak lupa Pak Tanto memperkenalkan istrinya. Katanya, kalau istri Cak Nun adalah penyanyi, maka istri dia sendiri adalah Guru Yoga. Mas Tanto yang bergaya santai dan ceplas-ceplos ini merasa beruntung dengan kegiatan malam ini, karena di Mocopat Syafaat ini untuk kali pertama ia melihat istrinya mengenakan kerudung, sementara si istri tersebut adalah seorang Kristiani. Pada kesempatan itu, Bu Tanto mempersembahkan sebuah nomor lagu gereja dalam bahasa Jepang diiringi musik KiaiKanjeng. Dalam nada dan musik yang sama, lalu para vokalis KK melanjutkannya dengan nomor shalawat.

Menjelang pukul 00.30 dinihari, Cak Nun bersama penyair rusak-rusakan Mustofa W. Hasyim dengan diantarkan lagu Cinta Bla-bla yang dibawakan Mas Imam Fatawi telah bergabung ke atas panggung.

Sedikit menjelaskan tentang filsafat “nek dadi ojo dudu, nek dudu ojo dadi”, Cak Nun menegaskan bahwa kita harus jelas. Karena, seringkali sesuatu yang dadi (jadi), ternyata dudu (bukan), sementara yang dudu malah dadi. Dan, sebelum jauh berbicara, Cak Nun mempersilakan penyair rusak-rusakan Mustofa W. Hasyim untuk membacakan puisi-puisinya yg senantiasa jenaka tapi sarat makna. Pak Mus pun membawakan puisinya berjudul “Siapa Suka Bohong”. Puisi ini mengandung paparan tentang filsafat kebohongan. Di dalamnya Pak Mus merinci ada 9 jenis kebohongan dalam sebuah negeri. Di antaranya kebohongan yang dicita-citakan, kebohongan yang dilestarikan oleh undang-undang, bohong yang disucikan, bohong yang dianggaranbelanjakan, dan seterusnya.

Nomor puisi selanjutnya yang dibawakan Pak Mus bukan hanya bait-bait teks atau kalimat-kalimat, melainkan juga bunyi dan nada-nada yang tak terelakkan lagi membetot syaraf tawa para hadirin, apalagi kemudian direspons secara musikal oleh KiaiKanjeng. Saking jenakanya, Pak Toto Rahardjo pun nyeletuk, “kalau itu kebohongan nada namanya…,” disambut gerrr jamaah.

Setelah meminta Pak Toto meresume pembicaraan sejak awal Mocopat ini, Cak Nun meminta agar kita senantiasa jangkep (utuh/lengkap) secara intelektual, mental, dan spiritual. Jangan sampai kebenaran intelektual terpleset menjadi kerapuhan mental, dan sebaliknya. Pun kaitannya dengan sisi spiritual.

Dalam Maiyah ini, kata Cak Nun, kita sudah sejak lama belajar mupus. Kondisi apa pun bisa diatasi secara mental (sebagaimana panjang lebar diterakan dalam pembahasan teknologi internal pada forum-forum sebelumnya). Ini baik, tetapi bisa juga tidak baik, karena bisa menjadikan kita kebal. Padahal, ilmu kebal ini bertentangan dengan sunnah Allah. Maiyah juga bahaya kalau kebal terhadap penderitaan. Derita hidup itu penting. Sedih itu penting. Jangan sampai kita tidak bisa menangis. Kebal itu kadang-kadang saja perlunya. Janganlah kekebalan yang seperti itu permanen sifatnya. Itu pun harus dilihat bagaimana keterkaitannya dengan perilaku-perilaku kita sebelumnya. Canda tawa kita di sini pun tidak boleh menyebabkan kita kebal secara budaya terhadap masalah-masalah di sekitar.

Menyinggung sedikit soal pendidikan, Cak Nun mengatakan bahwa karena Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama segala benda, maka sesungguhnya guru manusia (anak-anak Adam itu sendiri) adalah Allah. Ini tersambung dg konsep bahwa Allah juga memiliki tajalli, yaitu memancarkan sifat-sifatnya pada diri manusia (dalam naturalitas dan kemampuan kreatifnya). Sayangnya, pendidikan selama ini menjauhkan manusia dari tajallallah/tajalliyat ini, bahkan cenderung tidak mempercayainya. Pendidikan terlalu percaya bisa membentuk manusia menjadi seperti yg dirancangnya tanpa mempunyai keterkaitan kesadaran dengan tajalliyat tadi.

Sesudah beberapa nomor shalawat beratmosfer kekhusyukan dan dilanjut dengan munajat Sohibu Baity, Cak Nun mengajak para jamaah untuk belajar mengenai hal-hal mendasar yaitu apa yg menjadikan manusia sebagai manusia. Apa unsur-unsur utama yang membedakan manusia dari yang bukan manusia. Dieksplorasilah bersama jamaah unsur-unsur seperti rasa, pikiran, karsa, hati nurani, dan lain-lain. Tetapi Cak Nun meminta para jamaah untuk secara tegas menunjuk mana dalam diri manusia yang merupakan unsur-unsur utama manusia. Kalau kita menyebut pikiran, haruslah jelas mana yang disebut pikiran. Kalau kita menyebut hati, harus jelas mana yang disebut hati. Harus jelas, jangan kabur.

Unsur-unsur itu mempunyai fungsi. Misalnya hati dan pikiran. Pada case study mengenai kejujuran, pertanyaannya adalah yang jujur itu hati atau pikiran. Tetapi, okay-lah bisa pula kita katakan bahwa jujur itu juga berlaku pada hati dan pikiran. Lalu kita juga harus berpikir tentang apakah jujur ini input atau output.

Lalu lebih jauh Cak Nun bertanya, “Selain jujur, apalagi sifat-sifat dari unsur-unsur itu?” Dijawablah secara bebas oleh jamaah: ikhlas, arif, sabar, dll. Tetapi dengan simulasi ini, Cak Nun hendak menunjukkan bahwa dalam soal elementer sekalipun sering kita tidak mengerti persis.

“Sebenarnya saya bermaksud sederhana. Keseluruhan sistem yang ada ternyata tidak menghasilkan kehidupan yang baik sebagaimana dikandung dalam kebenaran sistem tsb. Mengapa demikian?,” simpul dan tanya Cak Nun. Jawab jamaah: karena manusianya. Nah, ajak Cak Nun, “sebut tiga saja apa kerusakan manusia tersebut?” “Serakah, nafsu (terhadap harta, kuasa, wanita),” jawab sebagian jamaah. “Kok nafsu terhadap harta?,” kejar Cak Nun “Ada hubungannya dengan Gusti Allah nggak,” kejar Cak Nun lagi. Cak Nun memaksudkan apakah manusia sedemikian rupa serakahnya sehingga lupa bahwa Allah sebenarnya menjamin hidup mereka. Apakah mereka lupa bahwa Allah tidak membiarkan manusia atau makhluknya akan terlantar tak terpenuhi kebutuhannya.

Diurut lebih jauh oleh Cak Nun, “lalu siapa saja yang serakah. Pejabat? Ulama? Rakyat? Atau siapa?,” Begitulah Cak Nun mengajak kita untuk lebih tartil dalam berpikir dan menganalisis suatu hal.

Dikembangkan lebih jauh: kalau serakah, apakah karena memang serakah, apakah karena tidak percaya Allah, atau apakah karena memang tidak cukup harta itu sehingga direbut-rebut secara serakah? Jamaah menjawab: karena ketidakpercayaan kepada Allah. Maka, respons Cak Nun, “kita selama ini tidak berdialektika dengan Allah.”

Nah pertanyaan terakhir, “kalian kan di Maiyah ini membangun diri supaya tidak seperti mereka? Apakah kalian berani? Kalaupun mungkin kalian beraninya katakanlah 10 persen berarti kalian harus menyangga pada skala yang tidak terlalu luas alias sejauh/paralel dengan 10 persen tersebut,” jabar Cak Nun.

“Mudah-mudahan anda di Maiyah ini menjadi manusia dengan kesiapan-kesiapan untuk tidak seperti sekarang, maka kita selalu mendayagunakan intelektual, mental, dan spiritual di maiyah ini,” tegas Cak Nun.

Seorang jamaah bertanya, “Cak apa yang menyebabkan kita tidak berdialektika dengan Allah, bersifat internal atau eksternal?”. Cak Nun menanggapi, “Saya kira sebabnya adalah sebab eksternal, karena sesungguhnya tanpa kitab pun, kita punya kedekatan natural kepada Allah, tetapi sejauh ini kita tidak percaya terhadap hal itu karena dibikin demikian oleh hal-hal atau informasi-informasi yang kita terima selama ini.”

Tanpa terasa waktu sudah menujuk pukul 3.00 dini hari, dan Cak Nun segera memuncaki acara dengan untaian Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashiir dan ditutup dengan doa Cak Nun untuk para jamaah Maiyah seluruhnya.

Demikianlah reportase singkat Mocopat Syafaat dr pelataran TKIT Alhamdulillah Kasihan Bantul. Mohon maaf atas pelbagai kekurangan.