Ketika Manusia Menggerhanai Cahayanya dan Negara Menggerhanai Rakyatnya

Konser Novia Kolopaking dan KiaiKanjeng yang bertajuk “Hati Mata Hari” ini rencananya akan diselenggarakan 2 kali, yaitu pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 20.00 WIB, di Convention Hall Grand City Surabaya dan pada tanggal 5 Maret 2011 di Hall Kartika Graha, Malang.

Ini konser apa gerangan? Oooh, Novia Kolopaking akan menyanyikan lagu-lagunya, lagu-lagu yang dulu kah? Ditemani oleh KiaiKanjeng….

Ternyata lagu-lagu dulu adalah juga lagu-lagu sekarang dan lagu-lagu yang akan datang. Lagu-lagu itu tidak pernah mati di dalam diri penyanyinya, dan ternyata tak pernah mati juga pada diri setiap orang yang pernah mendengarnya. Ke manapun Novia pergi mengantarkan KiaiKanjeng berjumpa dengan masyarakat, selalu ia diminta menyanyikan lagu-lagu — yang akhirnya tidak lagi memiliki sifat “dulu”, “sekarang” atau “nanti”.

Ternyata karya hati manusia dan kreativitas keindahan tidak bisa direbut atau dipagari oleh waktu. Nurani manusia yang menyimpannya, tanpa waktu bisa membatasinya.

Lantas kenapa “Matahari”? Kenapa “Hati Matahari”?

Karena mataharipun tak punya dulu, sekarang atau besok. Matahari hanya satu, dan selalu hanya satu itu, sejak jauh sebelum Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, hingga kelak detik terakhir kehidupan jasad seluruh makhluk Tuhan. Matahari itu bikinan Tuhan, yang diperintah untuk mengantarkan cahaya. Juga manusia, made by Allah, diperintah untuk mengantarkan keindahan, membangun kebaikan, menegakkan kebenaran, menyebarkan kearifan, kedewasaan, kecerdasan, kedalaman, serta apapun yang sesungguhnya merupakan cahaya bagi jiwa manusia sendiri.

Orang yang kreatif, orang yang cendekia, orang yang mulia, orang dengan “cahaya” titipan Tuhan dalam bentuk apapun, sesungguhnya berposisi sebagaimana matahari. Kalau orang dititipi cahaya yang kuat oleh Tuhan, maka ia juga menanggung resiko seperti matahari: semua orang silau oleh cahaya matahari. Semua orang memerlukan sinar matahari, tetapi ia tak pernah memandangnya. Mungkin ia hanya mengenang dan memitoskannya. Tetapi kalau cahayanya terlalu kuat, mungkin orang menghindarinya, takkan pernah mau menatapnya, mungkin bahkan membencinya.

Maka sesungguhnya hati matahari sangatlah kesepian….

Apalagi kalau cahayanya tidak sampai kepada yang berhak ditaburinya. Kalau cahayanya dihalangi untuk mengantarkan anugerah cinta Tuhan kepada makhluk-Nya. Kalau matahari digerhanai oleh rembulan atau oleh bumi sendiri. Kalau matahari rahmat Tuhan atas penduduk suatu negeri digerhanai oleh Pemerintahnya sendiri….

Lagu-lagu lembut Novia Kolopaking diolah kembali bersama KiaiKanjeng untuk tidak sekedar menjadi keperihan hati personal, melainkan menjadi keteririsan sosial dari hati ummat manusia dan bangsa-bangsa.

Tidak ada yang muluk-muluk pada nomor-nomor yang mereka bawakan. Tidak ditemukan pretensi untuk mendalam-dalamkan atau meluas-luaskan nilai. Karya Chossi Pratama, Dwiki Dharmawan, Ags Arya Dwipayana, Harry Tjahjono, termasuk karya KiaiKanjeng sendiri.

Lagu-lagu Novia pasti tidak abadi, sebagaimana matahari juga tidak abadi. Tetapi keduanya mengantarkan pembelajaran tentang keabadian.