Indonesia… Maafkan Aku. Kamu Di Mana?

Anda adalah entitas yang tidak diberi kesempatan untuk berbuat kepada Indonesia.

Forum Kenduri Cinta bulan September diawali dengan pembacaan Alquran Surat Annisa, yang kemudian langsung disambung dengan lantunan shalawat.

“Tajuk Kenduri Cinta kali ini merupakan ungkapan kontemplasi bagi kita semua. Indonesia yang kita bicarakan selama ini sebenarnya siapa, yang mana? Apakah saya Indonesia karena saya bathikan, atau karena KTP saya, atau bagaimana? Sebenarnya kita kan maunya Indonesia bersama dengan kita semua,” Mas Adi mulai memaparkan maksud dari judul Kenduri Cinta edisi September ini.

“Maka melalui judul tersebut, Kenduri Cinta meminta maaf kepada Indonesia karena kita kok belum ketemu, belum matching dengan Indonesia. Apakah yang kita lakukan selama ini memang untuk Indonesia, atau hanya untuk diri kita sendiri saja? Yang penting adalah kebersamaan kita ini, mencapai hal-hal yang baik. Sehingga kebersamaan ini bisa menghasilkan suatu hal yang positif.”

“Indonesia yang kita bicarakan ini adalah Indonesia dalam tanda kutip. Kalau melihat kondisi saat ini kan Indonesia nggak penting-penting amat. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk Indonesia ini, karena dalam lingkungan terkecil pun untuk ke depannya sudah sangat mengkhawatirkan.”

“Indonesia… Maafkan Aku. Saya menafsirkan Indonesia sebagai Nusantara. Jangan terlalu jauh untuk membicarakan Majapahit dan sebagainya. Dulu, Soekarno mencetuskan cita-cita nasional, tapi pada hari ini cita-cita itu hanya milik pribadi-pribadi. Mereka yang berkoar-koar atas nama Indonesia kemudian menjadi pribadi. Pada zaman Majapahit Indonesia adalah superpower. Pernah ada surat-menyurat antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan petinggi Sriwijaya yang menyatakan bahwa Nusantara sudah mencapai kemajuan yang sangat tinggi. Dan sekarang kita sepertinya tak mampu lagi untuk mengembalikan Indonesia ke era seperti itu lagi, sehingga satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah meminta maaf kepada Indonesia.”

Mas Wahyu membacakan puisi Seandainya Aku Seorang Belanda, yang pada zamannya membuat pemerintah Hindia-Belanda kebakaran jenggot. Kemudian disusul satu puisi lagi, kali ini karya Cak Nun, dengan judul sesuai dengan judul forum Kenduri Cinta bulan ini: Indonesia, Maafkan Aku.

“Semoga kita lahir kembali, suci kembali. Ada nggak masalah di Indonesia ini yang tidak bermasalah? Orang hidup normal dalam satu keluarga itu kan rejekinya cukup. Semua hidup sehat, kalau mau sekolah uangnya cukup, makanannya cukup, pakaian ada — nggak mewah tapi ya nggak rombeng.”

“Indonesia ini sebuah Negara besar yang harus diurus dengan strategi ilmu yang sangat besar karena Indonesia ini Negara yang sangat complicated, kompleks, memiliki keragaman yang sangat rumit yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.”

“Di Arab ada nggak orang Jawa? Di China bisa nggak kita temukan orang Indonesia? Tapi kalau di Indonesia, ada nggak orang China, orang Arab? Kita bisa menemukan bahwa orang-orang China yang di Indonesia punya ciri yang berbeda dari orang China asli. Mereka jauh lebih Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Kalau di Sunda, mereka jauh lebih Sunda daripada orang Sunda aslinya, kalau di Surabaya, mereka jadi medok sekali.”

Usai Mas Adi memberikan sedikit pengantar, giliran Mas Iwan menyapa jamaah. Hujan mulai turun, sehingga mau tak mau jamaah yang tadinya berdiri atau duduk di belakang mulai merapat dan memenuhi ruang kosong di bagian depan. “Saya ingin menyampaikan bahwa alam mempunyai mekanismenya. Ketika kita ingin melakukan penataan, apakah itu lahir dari dalam, atau didorong dari luar? Mekanisme internal kita sebenarnya sadar bahwa kita harus begini, harus begitu. Tapi juga ada banyak faktor yang terlibat, seperti misalnya : ‘Bukan urusanku’, ‘Ah, sudah enak begini kok’. Namun ketika alam sudah berbicara, kita tidak bisa apa-apa lagi.”

“Kalau kita di jalan lihat orang-orang nggak mampu, pengen mbantu nggak kita? Mampu nggak kita mbantu mereka? Kita ingin melakukan banyak hal untuk Indonesia, tapi kita belum benar-benar mampu untuk melakukannya. Saya merasa Cak Nun ingin menyindir kita. Sudah sebelas tahun kita ngaji di sini. Coba Anda sebutkan masing-masing satu permasalahan yang dimiliki Indonesia, yang berbeda satu dengan yang lain.”

Satu demi satu hadirin mengungkapkan satu permasalahan Indonesia versi mereka sendiri. Ada yang menyebutkan kemiskinan, pengangguran, kapitalisasi pendidikan, nggak bisa mikir, buruknya moralitas, brain drain, para pemimpinnya adalah para calo, carut-marutnya hukum, busung lapar, poligami, kebanyakan doa, hilal, dan masih banyak lagi.

“Saya sebenarnya berharap ketika separo dari Anda sudah saya tanyai, yang lain sudah stop nggak bisa kasih jawaban lagi, tapi ternyata masalah-masalah itu ada sangat banyak sekali. Memang tidak ada yang bisa kita lakukan, tapi jika kita sudah bisa menginventarisir permasalahan-permasalahan itu, kita punya acuan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.”

“Keluarga besar ada dalam arti famili, kampung halaman, dan sebagainya. Kalau sudah paham masalahnya, kan tinggal dicari alternatif solusinya. Permasalahan-permasalahan besar Indonesia itu bukan tanggung jawab pribadi kita, karena kita sudah mengamanatkan pada orang-orang di atas, yang ternyata tidak serius bekerja.”

“Urusilah Indonesia dari sudut-sudut yang kau kuasai, apakah itu penataan ruang, atau yang lain-lainnya.”

“Pertama-tama, saya secara pribadi mohon maaf lahir-batin,” Mas Arya Palguna mengawali uraiannya, “Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada Anda. Jelas bahwa Indonesia sangat kompleks. Tapi di Indonesia tidak ada masalah, karena ketika Anda kemukakan masalah-masalah itu tadi dengan senyum, dengan enteng, dimulai dengan kegembiraan, sehingga itu bukan masalah. Tapi paling tidak, kita mempunyai bahan untuk diskusi kita malam ini.”

“Secara historis, ada masa kini dan ada masa depan. Dalam hal ekonomi saja, jika kita ngomong optimisme, Indonesia punya peluang yang sangat besar di depan. Potensi-potensi itu bisa berupa sumber daya alam. Yang menjadi masalah adalah pengelolaannya, terutama man power yang bisa menghasilkan teknologi untuk mengelolanya. Yang kedua adalah masalah infrastruktur, karena komponen transportasi sangat mempengaruhi harga barang-barang. Kalau di Jepang, pemerintah turun langsung menyediakan transportasi massal, sedangkan di Indonesia, proyek-proyek transportasi yang menjadi andalan justru adalah proyek-proyek jalan tol. Hal itu mengakibatkan high-cost technology.”

“Surplus memang terjadi, tapi lebih banyak produk-produk yang kita nikmati adalah produk impor. Garam saja kita sudah impor, padahal kita ini negara maritim.Kita punya potensi untuk growing, sebenarnya.”

“Kemerdekaan sejati itu kan ketika Anda tetap tawadlu’, saling berempati, mencintai alam, sehingga ketika tidak ada border negara pun tidak ada apa-apa.”

“Kenapa kok infrastruktur logistik sangat penting? Kita bicara aksesibilitas. Ada aksesibilitas fisik dan ada yang non fisik. Sayangnya di Indonesia, pengaturan infrastruktur itu diberikan kepada asing. Kalau sebagian besar tenaga kerja intelektual kita tidak mampu melakukan inovasi-inovasi kan gawat. Berapa kali yang bilang Indonesia di ambang kegagalan, Indonesia gagal, Indonesia bangkrut, asing masuk ke Indonesia, nggak juga ada masalah. Anda sekarang ini diciptakan dalam kondisi di mana Anda harus menahan sedemikian banyak tekanan. Maka nanti Anda bisa menemukan formula-formula baru karena Anda sudah ditekan sedemikian rupa.”

“Judul kali ini paling tidak memberikan kesadaran pada Anda bahwa Anda adalah entitas yang tidak diberi kesempatan untuk berbuat kepada Indonesia.”

“Malaysia, intelijen, pemerintah, SBY tidak mempan untuk menakut-nakuti Anda. Nanti ada formulanya karena Anda bertahan terhadap sesuatu, Anda sedang berjalan yang pada titik tertentu akan berujung pada formula baru atau ideologi baru. Manusia tidak boleh berhenti untuk berpikir. Tidak perlu ruwet-ruwet, mari kita memaafkan diri kita, orang lain, dan Indonesia.”

Selaku moderator, Mas Ibrahim memaparkan bahwa kata ‘masalah’ berasal dari bahasa Arab, su’al, “Kalau ada soal, pasti ada jawaban” sekaligus menyambung dari Mas Arya ke pembicara berikutnya, Mas Yogi, seorang praktisi pendidikan.

“Dalam teks Sumpah Pemuda – pada bagian yang ketiga – jelas bahwa kita telah berikrar bahwa bahasa kita adalah bahasa Indonesia. Namun untuk tahun ini ujian nasional SMP nilai paling rendah adalah nilai Bahasa Indonesia. Saya sebagai guru, terus terang hanya bisa mengucapkan ‘Maafkan aku, Indonesia’. Ada kapitalisasi pendidikan di Negara ini, terutama dalam penerimaan siswa baru. Berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk anak yang hendak masuk SMP? Guru-guru tahu itu, tapi mereka diam saja, karena mereka ikut menikmati secuil kenikmatan dari kue kapitalisasi pendidikan itu.”

“Sekarang ada SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), dan regular. Anak kita itu selain harus pintar, ternyata orang tuanya harus kaya. Sebagai contoh SMA 28 Pasar Minggu, kelas regulernya hanya satu kelas, yang lain merupakan KI (Kelas Internasional). Komite sekolah diambil dari para orang tua siswa, karena setelah menikmati ‘kue’, sekolah ingin cuci tangan dan melemparkannya pada komite itu.”

“Kalau bisa kita minta maaf bukan kepada Indonesia saja, tetapi juga kepada anak-anak Indonesia.”

“Sesuai dengan tema pada malam hari ini, Indonesia itu adalah sebuah nama. Nama tersebut merupakan gugusan Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Kita punya berbagai masalah karena kita hidup, karena hidup memang harus ada masalah. Masalah tidak akan menjadi masalah jika tidak dipermasalahkan oleh orang-orang yang mempunyai masalah, dan dengan begitu selesailah masalah itu,” Mas Agung Pambudi mengawali uraiannya.

“Hari raya itu ada lima, yaitu: dimaafkan oleh seluruh makhluk alam semesta dan Allah SWT, mati secara khusnul khatimah, nguwot sirathal-mustaqim selamat, memasuki surganya Allah, dan dapat berjumpa dengan Allah SWT. Maka dari itu kita harus meminta maaf. Jika manusia sudah bisa meminta maaf, nah, tergantung sama yang dimintai maaf. Kita sudah meminta maaf kepada alam semesta, tapi bagaimana dengan alam semesta, apakah dia memaafkan kita?”

“Kita punya agama banyak di sini, maka kita disebut Negarakertagama, Negara yang bisa hidup dengan banyak sekali agama. Lakum dinukum wa liyaddiin. Yang penting kita hidup rukun, dari Sabang sampai Merauke, itulah hablu minannas kita. Oke, kita sampaikan salam kepada seluruh alam semesta. Assalamu’alaikum. Al-Fatihah….”

“Akhirat itu bukan di sana, bukan di mana-mana, akhirat itu adalah negeri permai yang ada di sini.”
Pada sesi tanya-jawab, ada satu penanya bernama Umam, yang menyampaikan pertanyaan kepada keempat pembicara dan juga menceritakan pengetahuan yang didapatkan dari buku kumpulan puisi Cak Nun yang terbit bertahun-tahun silam – Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Masing-masing pembicara kemudian menanggapi pertanyaan mas Umam. Diawali dengan Mas Agung, “Barangsiapa dapat mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Ada tiga masjid dalam diri manusia , yaitu Baitul Muharram, Baitul Muqaddas, dan Baitul Makmur. Manusia yang sudah manunggal tidak terhijab oleh ruang dan waktu untuk melaksanakan shalat. Ada yang namanya shalat da-im (shalat yang tidak pernah terputus). Bangsa ini sudah jelas kehilangan jati diri. Kita Islam, tapi Islam hanya dalam simbol. Nenek moyang kita sudah ber-Islam dalam perilakunya. Mereka sudah punya jangus kalimasada. Kita adalah turunan dari dua trah, yaitu Anwas dan Anwar. Anwas melahirkan nabi-nabi, Anwar melahirkan dewa-dewa. Percampuran antara keduanya melahirkan para wali.” Uraian mas Agung disambung dengan jawaban dari Mas Arya, “Yang tadi saya sampaikan tidak ada persoalan, itu karena Anda sudah menyatu dengan masalah. Di Indonesia banyak masalah yang tidak diselesaikan, selesai sendiri. Kalau ada orang-orang yang mencoba menyelesaikan masalah itu, dia akan tergilas oleh masalah itu sendiri.”

“Di awal saya bertanya untuk menginventaris permaslahan-permasalahan yang ada, apakah itu terbatas atau tidak terbatas,” Mas Iwan menanggapi, “Setelah para jamaah menyebutkan satu per satu, ternyata masih tersisa masalah. Kemudian kita memilah-milah permasalahan tersebut. Apakah itu merupakan permasalahan sistematis atau permasalahan personal. Permasalahan personal membutuhkan penyelesaian personal pula, begitu pula jika permasalahannya sistematis. Kita mencoba mencari hulu permasalahan kita. Saya melihat dalam sudut ketatanegaraan, negara diatur dengan hukum dasar yang disebut konstitusi. Kita mengalami problem konstitusional yang sudah 4 kali perubahan, yang kini sudah digagas lagi amandemen kelima. Kepemimpinan kita dilahirkan dari sistem yang korup. Kita sebenernya milih pemimpin atau dipilihkan pemimpin? Ada problem mekanisme rekruitmen pemimpin. Sistem rekruitmen yang korup pasti akan menghasilkan kepemimpinan yang korup. Lalu keburukan itu menjadi pola yang dianggap baik. Maka di situlah pentingnya Kenduri Cinta.”

“Saya setuju bahwa bisa dihitung berapa yang punya kamus bahasa Inggris dibandingkan yang punya kamus Bahasa Indonesia, pasti banyak yang punya kamus bahasa Inggris,” ujar Mas Yogi singkat, menanggapi pernyataan keprihatinan Mas Umam terhadap ketidakseriusan orang-orang Indonesia dalam mempelajari Bahasa Indonesia.

Lewat tengah malam ketika para pembicara sesi kedua mulai memposisikan diri di depan para hadirin. Cak Nun memberikan sedikit pengantar, “Kita punya Pak Franky Welirang, punya Pak Rahmat Zulkarnaen – seorang Jerman asli yang sekarang telah menjadi Aremania, konsen utamanya di bidang pertanian, punya Kiai Hasan Sahal, punya Kiai Toto Rahardjo. Kita terbukti tidak mampu mempertahankan 3 hal: harta benda, martabat, dan nyawa. Dan KC maupun Maiyah secara umum belum sanggup untuk ikut menjaga ketiga hal itu. Kita sendiri sedang mencoba membangun martabat, tapi kita belum sanggup menjaga martabat seluruh orang.”

“Kemarin di Jombang kita menyimpukan bahwa Indonesia ini harus mengalami operasi cesar, karena tidak mungkin proklamasi kedua itu dilangsungkan secara normal. Namun masalah siapa yang mengoperasi, dan dengan cara seperti apa, itu nanti kita akan lihat.”

Kiai Toto Rahardjo memulai uraiannya, “Maiyah bisa jadi sampai saat ini kita belum yakin merupakan cara untuk memperbaiki bangsa Indonesia. Tapi minimal kita tidak menambah keburukan Indonesia.”

“’Indonesia, maafkan aku’ atau ‘Aku maafkan Indonesia’? Mau minta maaf juga ra ngerti karo sopo.”

Di catatan Maiyah, tidak ada sesuatu yang kecil, semua itu penting. Sekecil apapun, kita harus setia melakukannya. Contohnya adalah seorang seniman dari Surabaya, Kartolo, yang sangat setia dalam menjalani hidupnya. Beberapa waktu lalu dia menolak tawaran untuk membintangi sebuah iklan karena di dalam iklan tersebut dia harus menjelek-jelekkan produk yang telah ada sebelumnya.”

“Hal-hal yang bisa dihitung, ngopo ndadak didelok?” Saya kira Maiyah menolak setiap pembodohan. Dan pembodohan yang paling buruk adalah pembodohan yang mengatasnamakan dalil.”

“Kita coba telusuri betapa orang tidak serius, betapa orang tidak setia. Yang paling penting adalah kita harus setia pada hal-hal yang kita yakini, tanpa kita lihat besar atau kecilnya hal itu. Inti dari kita Maiyah, kita tidak menjadi parpol atau organisasi. Kita cukup menjadi majlis ilmu saja.”

“Perubahan-perubahan yang terjadi bisa melalui dua cara: Allah sendiri yang turun tangan atau Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk melakukan perubahan (bisa melalui kebijakan dan lain-lain). Kesimpulan dari Surabaya kemarin adaah tidak ada cara lain kecuali kita berubah dari diri sendiri, teman-teman, dan seterusnya.”

“Ha piye wong wis busuk kok malah kon njaluk maaf piye?”

“Dari berbagai kesepakatan, ya sudah, kita mulai menghimpun pengalaman baik personal maupun hasil silaturahim teman-teman mulai ditulis. Kita sendiri yang harus menganggap penting. Kalau kita punya catatannya akan menjadi mudah bagi orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Menurut teori lama kan ada negara, ada modal, ada rakyat. Jangan-jangan ora ngono? Nha, makane tafsirnya harus di-update terus-menerus.”

Usai Kiai Toto Rahardjo menyampaikan uraiannya, kini giliran Pak Franky Welirang. “Kalau kita punya satu negara, rakyat ini merupakan bagian apa dalam Negara itu? Kita itu adalah pemegang saham dari negara. Hari ini mungkin kita banyak melihat tikus-tikus yang tertangkap. Beritanya banyak sekali, dan yang paling banyak dibicarakan adalah tentang nangkep tikus. Yang tidak pernah dibicarakan adalah bagaimana cara menutup lubang tikus. Biasanya, pasti di mana lumbung ada dan banyak lumbungnya, di sanalah tikus berada, dan itulah posisinya. Nha mari kita melihat dalam dunia usaha, apakah di dunia usaha ini besar lumbungnya. Dunia usaha ternyata ada 2: usaha swasta dan BUMN. Seluruh perputaran ekonomi kita 70% sebetulnya dikontrol oleh BUMN. Saya kasih contoh minyak yang memegang BUMN, pabrik gula yang terbesar 80% BUMN, pupuk 95%, pupuk, kereta api. Lima bank BUMN dibanding puluhan bank swasta, 70% transaksi terjadi pada bank BUMN. Kita tahu selalu ada bagian pemasukan, ada pengeluaran.”

“Yang hari ini terlihat di sanalah perputaran-perputaran terjadi dan di sanalah tikus akan selalu ada. Kita diarahkan untuk selalu senang dalam menangkap tikus, padahal tikus nggak akan pernah habis. Tapi tak pernah ada yang membicarakan bagaimana untuk menutup lubang, menutup lubang, menutup lubang. Ada yang memproduksi lubang-lubang tikus. Pemekaran daerah juga bisa menjadi lubang tikus lagi.”

“Kita membicarakan pangan hanya untuk hari ini. Dunia itu akan tumbuh. Walaupun dikatakan beras 69,9 juta ton, tetap saja impor beras 1,9 juta ton. Harga GKG (Gabah Kering Giling) hari ini sudah mencapai 7000. Apakah sebetulnya kita mampu untuk memenuhi kebutuhan kita ke depan? Di sini ada kawan kita yang banyak berkeliling dengan banyak petani, yaitu Pak Rahmat Zulkarnaen.”

“Sekian ratus tahun yang lalu, bangsa saya nyolong makanan dari bangsa Indonesia, nah sekarang bagaimana kondisi pangan Indonesia saat ini? Tuku beras tekan kono, tekan kono. Nek ono bolongan, yo ojo dileboni Mas, ditutup bareng-bareng. Paling tidak kita tidak membuat bolongan.”

“Kita sendiri sulit berkembang, dikandhani ojo nggo pupuk iku, ngeyel. ‘Sing penting ijo, Pak’ ngono jare. Lha nek ijo sampeyan kelir wae to, dipilox ben ijo. Lemahe Indonesia iku arep ditanduri opo wae thukul. Njajal neng daratan Cino kono. Makane mbiyen mbah-mbahku nyolong mrene.”

Cak Nun menyambung dengan, “Lubang tikus itu tidak terjadi pada passiva saja, tetapi juga pada aktiva. Bahkan lubang tikus juga ada pada bagaimana mengatur lubang aktiva-passiva. Jadi kita sudah membuat lubang tikus sejak amandemen. Yang menjadi perhatian kita adalah tikus yang diuber-uber, padahal yang nguber-uber itu ya rajanya tikus.”

“Politik industri pupuk itu yo’opo carane njelaske bahwa itu lubang tikus yang sengaja dibikin? Mengapa petani kita kehilangan pengetahuan mengenai kesehatan tanah, siklus alam yang menghasilkan hama, dan sebagainya?”

Zaman dulu, nek mangan niku gak kudu ono krupuke, mangane yo nggo tempe, tahu, sambel. Tapi terus dadi kudu ono krupuke. Masio mangan opo kudu ono krupuke. Sekali waktu aku ndelok, kabeh wis mangan krupuk. Tak nggawe bolongan-bolongan krupuk. Krupuke numpuk dadi akeh. Akhire sampeyan kudu mangan krupuk, asline butuhe mung siji tapi saiki kudu limo, sepuluh. Nyo, tak ke’i bantuan krupuk. Padhal ndhisik mangane ra nggo krupuk. Nggo tempe, tahu,” Pak Rahmat Zulkarnaen menjawab pertanyaan yang dilontarkan Cak Nun dengan bahasa ungkapan, yang memancing tawa para jamaah.

Namun rupanya Cak Nun sangat memahami tingkatan-tingkatan pemahaman jamaah mengenai uraian dari Pak Rahmat. “Khusus untuk yang tidak cerdas, saya jelaskan. Ada pemerintah yang sebenarnya sedang tidak memerintah tapi sedang berdagang. Dia menciptakan conditioning sehingga tingkat demand terhadap pupuk sangat tinggi di kalangan petani. Kerjaannya para pegawai pertanian adalah berdagang pupuk. Mereka juga melakukan conditioning harga. Nek pas sebelum musim tanam harganya sangat tinggi, nanti setelah panen harganya jatuh. Conditioning itu menyebabkan kondisi sedemikian rupa sehingga ketika petani diajak ngomongin pertanian, ingetnya pupuk. Saking gobloke menungso, suwe-suwe ga krupuk temen rapopo, sing penting rasa krupuk. Demikian juga dalam kebudayaan dan agama : yang penting bukan Tuhannya, yang penting ada bau-bau Tuhan. Salah satu lubang tikusnya adalah ketika manusia sudah terkondisi, perkoro ga pupuk temen rapopo. Sing penting ijo parine.”

“Jadi seluruhnya itu sudah nggak ada, kecuali lubang-lubang.”

Pak Franky menambahi, “Lubangnya bisa melalui subsidi. Premium 4500 kan? Selisihnya 4000 sendiri. Kita kan negara kepulauan. Kalau ada satu kapal yang ilang kan nggak ada yang tahu juga. Contohnya akan sangat banyak.”

“Kita bisa terbuai oleh sesuatu yang tidak terlihat. Ada yang bagian promosi membuat lubang. Maksudnya mereka adalah yang bagian ngomong ‘Ini lho, benar!’”

“Kita bicara dari hulu ke hilir,” ujar Mas Iwan, “Hulu dari persoalan ini adalah konstitusi. Pertanyaannya adalah apakah ketika konstitusi itu diubah benar-benar merupakan amanat rakyat sbagai proses kontrak sosial ataukah pasal-pasal itu dibuat untuk menciptakan lingkungan? Sehingga banyak di Undang-Undang kita temui kata-kata ‘akan diatur selanjutnya dalam UU’. Jadi yang penting bikin dulu jalan utamanya, trus bikin cabang-cabangnya.”

“Contohnya pada UU Penanaman Modal. Proses pembuatan UU Nomor 1 Tahun 1973 terjadi pada era Soeharto. Karena proses pembuatannya adalah lubang-lubang, sehingga orang-orang yang menduduki pos-pos itu harus diyakinkan bahwa mereka ‘orang-orang kita’ juga. Jadi kita harus meneliti struktur di suatu project, sebenarnya dari seluruh struktur itu yang bekerja yang mana, yang gajinya paling besar atau justru yang paling kecil?”

“Yang dimaksud Pak Franky adalah primer sekundernya perekonomian Indonesia, karena kita selama ini selalu digiring untuk menuju yang sekunder,” Cak Nun menambahi, “Suap itu nggak ada, yang ada itu pemerasan. Pasal-pasal yang dibikin ditargetkan untuk level kedua, karena tidak mungkin mereka bikin pasal untuk menjerat mereka sendiri.
Manipulasi-manipulasi itu sudah menjadi pekerjaan manusia. Indonesia mengalami reformasi tanpa infrastruktur. Tidak mungkin untuk mengubah Indonesia tanpa revolusi yang luar biasa. Apakah revolusi ini dilakukan oleh orang-orang yang ingin berubah, atau mungkin ada faktor-faktor alam semesta, spiritual, atau Tuhan sendiri. Mungkin jinglot juga ikut marah, apalagi yang mokswa-mokswa itu juga pasti nggak rela. Gajahmada, Pak Soekarno, Soeharto, Gus Dur.”
Kiai Toto Rahardjo menjelaskan betapa kita harus sangat belajar pada Piagam Madinah. “Dalam ranah hukum ada content of law, structure of law,dan culture of law (masyarakatnya). Kalau berangkat dari culture of law-nya, nggak perlu ada sosialisasi, karena muncul dari persoalan-persoalan dan kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat, sehingga pasal-pasalnya sangat jelas, dan tidak akan mungkin bisa ditafsirkan ganda.”

“Sambil berangkat ke Kiai Hasan Sahal, saya sekalian mengelaborasi apa yang saya dapat dari Maiyahan sejak beberapa bulan yang lalu. Mas Toto bilang tadi bahwa betapa indahnya jika kebijakan itu berangkat dari culture of law, tambah Cak Nun, “Misalnya bunyi kokok ayam dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Inggris itu bagaimana? Dalam bahasa Jawa bunyi kokok ayam itu ya kukuruyuk, tapi kalau dalam bahasa Sunda kongkorongkong. Beda jauh to? Kukuruyuk dan kongkorongkong itu hanya melibatkan proses dari telinga menuju mulutnya orang Jawa, orang Sunda, dan seterusnya.

Nanti suatu hari Maiyah harus siap. Anda harus siap menemukan Indonesia yang bukan kongkorongkong, kukuruyuk, trias politica, tapi Indonesia yang sejati.”

“Kalau Anda nggak siap Nabi Muhammad bukan Syi’ah bukan Sunni, bukan pula Ahlussunnah wal Jama’ah, Anda nggak siap untuk menerima Indonesia yang baru.”

“Anda siap nggak kalo Nabi Muhammad bukan orang Arab? Nabi Muhammad itu keturunannya siapa? Ya, Ibrahim. Ibrahim istrinya siapa? Cari orang Arab dan Yahudi yang namanya Hajar. Nek bahasa Arab artine watu. Mosok ono wong njenengi anake ‘watu’? Yang paling jelas ada pada bahasa Jawa ‘ajar’ yang artinya orang yang pekerjaannya mendidik atau menuntun orang lain, maka ada nama Ki Hajar Dewantara.”

“Jangan mewajib-wajibkan sesuatu yang tidak wajib. Nabi Muhammad merupakan nabi universal, bukan nabi lokal seperti nabi-nabi sebelumnya.”

“Kok ono wong Arab alus, nek mlaku ndhingkluk, seneng tapa? Wong tapa ki neng daerah tropis.”

“Tapi nek wong Jowo kok ra duwe isin? Syahadate menyebut namanya sendiri? Anggitmu Muhammad ki seneng po? Asline yo wis ngenyang karo Gusti Allah, tapi kalimat itu turun langsung dari Allah. Yang memalukan adalah ketika dia syahadat menyangkut namanya sendiri, seperti gubernur, presiden, yang memasang gambarnya sendiri. Tapi kalau yang memasang gambarnya rakyat, itu indah. Dan lagi, yang disebut dalam syahadat itu kan Muhammad sebagai utusan Allah, bukan Muhammad sebagai manusia.”

“Yang harus kamu cari bukan Islam Syi’ah, bukan NU, tapi Islamnya Muhammad. Lho tapi apa ya harus menolak semua itu? Bukan, Islamnya Muhammad itu Islam yang mengakomodasi semuanya. Bahkan Muhammad juga mengakomodasi yang bukan Islam.”

“Hisab itu artinya menghitung. Rukyat itu bermakna penglihatan bukan dengan mata, melainkan dengan pikiran. Hisab adalah metode untuk rukyat. Jadi Anda bisa menghitung hari raya untuk sampai kapanpun juga. Kalau harus melihat hilal, kok nggak tiap maghrib dan Shubuh kita melihat hilal?”

“Sekarang ini jaman korupsi. Curang,” begitu Kiai Hasan Sahal mengawali uraian Beliau, “Bab saya dipek semua. Lho tahu gitu kan nggak usah ke sini saya. Kulo ngomong liyane mawon nggih?

Agama ki simple, sing marakke ruwet ki menungsone.

Bashar ki pake indra. Bashirah artinya hati kecil (pandangan hati). Jadi nuwun sewu, saya lebih kasar daripada Cak Nun, saya takut ulama akan ditinggalkan umatnya. Sekarang banyak sekali Imam Al-Jaibi (dalam Bahasa Arab, al-jaibi=kantong). Jadi Hadratussyaikh Al-Jaibi itu yang penting berapa yang didapat, bukan soal mazhab atau dalil.”

“Kemudian krisis kepercayaan. Sekarang susah sekali cari orang yang bisa dipercaya, termasuk saya. Saya tidak mengkritik perayaan Idul Fithri secara seremonial, maaf-memaafkan, tapi apakah kita memang sudah saling memaafkan, antara guru – murid, orang tua – anak, atasan – bawahan, dan seterusnya.”

“Kalau dalam sepak bola, tendangan Anda nggak masuk-masuk, yang perlu diperbaiki itu tendangannya atau gawangnya yang digeser? Seharusnya kan yang pertama, tapi sekarang ini yang sering kita lakukan justru malah menggeser gawangnya.”

“Bagi kita, nggak ada yang tinggi selain Allah. Di atas kita hanya Allah, di bawah kita hanya Bumi.”

“Di Gontor ada jargon yang sangat indah untuk kita pelajari : ‘Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas. Jadi begitu urutannya. Jangan bebaskan pikiranmu nek kamu belum berbudi, nek kamu nggak cukup sehat,” ujar Cak Nun menutup Kenduri Cinta edisi September ini. Kemudian semua jamaah berdiri, berdoa bersama dengan dipimpin oleh Kiai Hasan Sahal.