Ya Allah, Orang Setulus itu….

Sebagaimana manusia biasa sesungguhnya sampai hari ini hati saya belum bisa “menerima” dipanggilnya Mas Heru Yuwono oleh Yang Maha Memilikinya.

Ya Allah, Engkau panggil hamba-Mu, manusia setulus itu, dari tengah keadaan dimana besarnya kepalsuan manusia jauh lebih besar dari besarnya bumi.

Engkau panggil saudara kami yang se-mukhlis itu hati lembutnya, dari tengah masyarakat yang hilang kepribadiannya karena dipenuhi oleh kepercayaan yang berlebihan atas topeng-topeng.

Engkau panggil intelektual yang sesportif itu di dalam memandang kehidupan dan ummat manusia, dari tengah percaturan kaum cerdik pandai yang beramai-ramai mengendarai kereta-kereta kecurangan terhadap akal sehat.

Engkau panggil pejuang silaturahmi, kooperator kesejahteraan dan perajut kasih sayang yang berjiwa seluas samudera, dari tengah bangsa yang isi utama sejarahnya adalah perilaku penyempitan, pergerakan pendangkalan dan perjuangan individualisme.

Engkau panggil sahabat kami yang selalu menampung dan tidak menuntut siapapun untuk menampungnya, yang selalu santun tanpa menunggu kesantunan siapapun saja kepadanya, yang selalu menjadi ruang dan kami semua adalah kumpulan perabot-perabot yang selalu merepotkannya.

Engkau panggil hamba kiriman-Mu yang senantiasa memperlakukan kami lebih dari saudaranya sekandang dan sedarah, khalifah-Mu yang senantiasa memurahi kami dengan berbagai bentuk kasih sayang melebihi mereka yang sesungguhnya berkewajiban atas kami.

Engkau memanggil hamba-Mu, Bapak yang amat sangat dicintai, dipatuhi, dan dibanggakan oleh istri anak-anak dan seluruh keluarganya, oleh semua saudara dan sahabat-sahabatnya, oleh sanak famili dan masyarakat siapapun yang berkenalan dan merasakan kelembutan dan kesantunannya.

Engkau memanggil pejuang-Mu dan pejuang kami semua dari tengah keadaan sangat genting dari Negeri dan Bangsa kami sehingga sungguh-sungguh kami semua berada di puncak kebutuhan kami atasnya?

“Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Kutahu tak setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta”

Ya Allah apa sesungguhnya maksud-Mu? Apa saja gerangan alasan, logika dan hikmah di balik iradah-Mu yang penuh keindahan langit namun memuat keperihan bumi?

Ya Allah betapa faqirnya jiwa kami, betapa rendahnya kesanggupan kami untuk mendayagunakan akal kami, betapa lemahnya kemampuan kami untuk mengendalikan hati kami, di hadapan rahasia iradah-Mu, di hadapan misteri kehendak-Mu, serta di kandungan luas tak terbatasnya cinta-Mu.

Ya Allah, jika kukatakan “tidak bisa terima kepergiannya”: itu semata-mata merupakan suatu bentuk tangis insaniyah dan kepatuhan uluhiyah yang perih bagi hati kemanusiaan kami. “Inna asyku batstsi wa huzni illa ilaika ya Rabbi”, sesungguhnya kamu mengeluhkan kesedihan dan duka derita ini tidak kepada siapapun selain Engkau wahai Maha Pengasuh kami.

Engkau Maha Mendengar hati kami semua serta Ibu Heru dan putra-putri mereka bahwa tangis kehilangan kami sama sekali bukanlah bentuk perlawanan kami kepada-Mu. Engkaulah juga yang menganugerahkan kekuatan bagi hati kami serta ketangguhan mental bagi perjuangan masa depan kami semua sepeninggal hamba-Mu yang sangat kami cintai itu.

Tentu saja kukejar hatiku sendiri dengan menungkapkan pernyataan Allah SWT: “Barang siapa tidak mau menerima ketentuan-Ku hendaklah ia berpindah dari bumiku dan mencari Tuhan yang lain”.

Ya Allah Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu yang kami nyatakan maupun yang kami sembunyikan, maka sesungguhnya tiadalah sesuatupun yang kami sembunyikan dari-Mu. Ya Allah Engkau mengarifi segala yang tersurat maupun yang tersirat, segala yang kasat mata dan yang tak kasat mata, segala yang terucapkan maupun yang tersimpan di dalam kebisuan, segala yang dimaksudkan maupun kandungan yang sejati di balik setiap yang kami maksudkan.

Ya Allah, adakah ucapan dari kefaqiran hamba-Mu yang tidak salah? Adakah kalimat, kata, huruf, bahkan setiap titik dari setiap huruf, dari kami semua yang hina dina ini yang tidak khilaf, yang memiliki ketepatan, yang sedikit saja mendekati garis kebenaran sejati yang berada di keharibaan-Mu?

Ya Allah sesungguhnya niscaya tiadalah satu huruf dari kata-kata kami, tiadalah satu kata dari kalimat-kalimat kami, tiadalah satu kalimat dari pembicaraan kami, tiadalah satu tetes dari deraian tangis kami, tiadalah satu satu debu dari setiap upaya kemakhlukan kami, yang memiliki kadar kebenaran yang memadai di hadapan agungnya kebenaran-Mu.

Ya Allah, kami semua tetap di sini, bersemayam di genggaman cinta-Mu, berpasrah diri di ujung jari kekuasaan-Mu, bersujud di bumi cinta-Mu kepada hamba-hamba-Mu dan di kekumuhan keringat upaya ibadah kami. Ya Allah kami berjalan hanya ketika Engkau perjalankan, kami melakukan apapun hanya karena Engkau memerintahkan kami untuk melakukannya, dan tak seserpihpun dari hidup dan mati kami yang kami relakan untuk siapapun selain Engkau.

Ya Allah, tentulah kami ikhlas atas setiap terbitnya matahari-Mu di fajar pagi dan atas tenggelamnya ia di ufuk senja hari. Tentulah kami rebah pasrah mensyukuri bergoyangnya setiap helai rumput, jatuhnya setiap tetes embun, serta selalu munculnya secercah cahaya dari tengah kegelapan yang Engkau limpahkan untuk mengasah iman dan cinta kami.

Ya Allah namun bimbinglah kami bagaimana memaknai rasa kehilangan ini. Tuntunlah kami mengarifi dan menghikmahi kekagetan besar kami. Ajarilah kami sebagaimana Engkau langsung mengajari kakek moyang kami Adam ‘alaihissalam, ” ‘allama Adama al-asma-a kullaha, tsumma ‘aradhahum ‘alal-Malaikah”.

Ya Allah di tengah riuhnya kebodohan dunia, di tengah gemuruhnya kehinaan para penghuninya, rebutlah kami semua keluarga almarhum Mas Heru Yuwono, saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya, tawanlah kami di penjara cinta-Mu, kurunglah kami di dalam tabung cahaya-Mu, hajarlah kami dengan ilmu dan kesabaran, cambukilah kami dengan hikmah dan rasa syukur, bariskan dan latihlah kami di laboratorium kecerdasan dan ilmu, serta tambahkanlah para Malaikat aparat-aparat-Mu untuk menjadi asisten-Mu di dalam menguji iman dan ilmu kami.

Ya Allah negeri kami sudah hancur, negara kami sudah dijajah oleh penghuninya sendiri dan diluluh-lantakkan oleh para penanggung-jawabnya sendiri, bangsa kami sudah melata-lata di dataran terendah dari kehinaan, bahkan lebih dari yang selama ini kami bayangkan tentang “asfala safilin”, masyarakat kami sudah menjadi lambang yang ideal bagi “ajhalul jahiliyah”, sebodoh-bodohnya kebodohan, yang mungkin tak pernah diimaginasikan oleh para Rasul dan tak pernah disangka oleh semua Nabi, sejak awal penciptaan hingga kelak Hari Kebangkitan yang Engkau tentukan.

Ya Allah Engkau Maha Lembut untuk mengerti bahwa kalimat-kalimat kami tentang Negeri kami itu bukanlah ungkapan hamba-hamba yang putus harapan. Engkau Maha Santun untuk mengetahui bahwa yang kami tegakkan adalah usaha kejujuran melihat diri kami sendiri serta upaya keberanian untuk mengakui apapun saja keadaan yang kami timpakan atas diri kami sendiri.

Ya Allah bagaimana mungkin kami akan pernah bisa berputus asa. Sedangkan Engkau menganugerahi kami semua limpahan kasih sayang yang tak Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang lain. Bagaimana mungkin kami akan pernah bisa berputus asa, sedangkan Engkau limpahi kami bangsa Nusantara ini dengan penggalan dari sorga-Mu sendiri, hamparan pulau terindah, terkaya dan paling penuh rahasia cinta-Mu.

Ya Allah bagaimana mungkin kami akan pernah bisa putus harapan, sedangkan Engkau letakkan kami untuk bersemayam di bagian yang paling mutiara dari bumi. Engkau nikahkan bangsa tercinta yang penuh bakat, kecerdasan rohani dan ketangguhan mental ini, dengan rahasia tanah tersubur, tetanaman paling ragam, ilmu gunung-gunung berapi dan samudera, yang masa depan seluruh dunia bagaikan sedang menjadi janin di kandungan perut Nusantara.

Ya Allah betapa bersyukurnya kami semua, dan masyaAllah: bersama mendiang Mas Heru Yuwono kami sedang berada di puncak rasa syukur itu, dan sedang menyelami bumi ilmu, lautan penelitian serta cakrawala kreativitas, demi cita-cita mewujudkan Negeri Nusantara ini menjadi “Negeri Rahmatan Lil’alamin” bagi kesejahteraan seluruh ummat manusia hamba-hambaMu di muka bumi — tatkala dengan tiba-tiba saja Engkau memanggilnya ke rumah abadi-Mu.

Betapa terkejutnya kami. Namun insyaallah kami tahu karena Mas Heru Yuwono adalah hamba-Mu yang terbaik di antara kami semua. Beliau sudah Engkau pandang lulus sebagai Syeikh Kehidupan, sebagai Sarjana Utama ilmu ajaran-Mu, serta sebagai Panembahan Mumpuni dari kearifan-Mu.

Sedangkan kami semua ini, entah apa akan pernah mencapai ketinggian maqamat yang dicapai oleh mendiang kekasih-Mu itu jika suatu hari Engkau memanggil kami. Namun sungguh kami berterima kasih bahwa Engkau masih memberi luang waktu bagi kami semua, juga keluarga beliau, untuk berjuang meningkatkan ilmu dan kasih sayang di dunia, serta untuk menabung kedekatan kepada-Mu semampu-mampu kami.

Yogyakarta 14 Desember 2010
Muhammad Ainun Nadjib