Headline

Daur (309)

Yang Sejodo dan Yang Separo

Sesudah menendang Saimon, Markesot memejamkan mata sangat lama, entah melamun entah merenung dalam kesedihan yang nuansa dan energinya menekan semua yang ada di ruangan itu.

Ternyata Markesot merangkai kalimat-kalimat yang judulnya muncul sendiri di tengah proses: “Doa Mohon Kutukan”.

Daur

Dari Semesta Cak Nun
Untuk Dunia Jamaah Maiyah

Daur (308)

Allah Sendiri Yang Memerintahkan

Markesot jengkel karena tahu bahwa Saimon tahu usaha baik yang dilakukannya berakibat sebaliknya dari apa yang diharapkannya. Markesot mengupayakan kemenangan kedua belah pihak, istilahnya win-win game, terhindarnya kemungkinan untuk bentrok antara dua pihak itu.

Maiyahan

Pekerjaan Mulia di Tengah Keadaan Negara yang Seperti Ini

Foto: Adin.

Semalam bertempat di bumi perkemahan Girikerto Turi Sleman telah berlangsung pelantikan anggota baru SAR DIY yang berjumlah sekitar seribu orang. Acara yang mereka ikuti ini bertajuk “Sisir Merapi Cintai NKRI”. Sebelum dilantik, mereka terlebih dahulu harus mengikuti serangkaian pelatihan dan pendidikan oleh Disaster Unit SAR DIY.

Agama Bernama Globalisasi dan Dipeluk Mayoritas Orang

Foto: Adin.

“Kalau bisa ada ekstra pembelajaran atau penelitian, meskipun tidak harus menjadi ekstrakurikuler. Anda tak bisa hidup dengan fokus Anda sendiri, Anda harus hidup peduli dengan tema atau fokus hidup bersama. Harus rajin berlatih asosiasi, intelektual dan emotif-emosional. Itulah thariqat ilmiah. Jika dilihat dari keputusan-keputusan yang diambil, manusia yang beragama itu tak lebih dari sepuluh persen, demikian juga dengan umat Islam yang beragama Islam itu paling sepuluh persen.

Para Santri IAIN Surakarta Sinau Hadapi Masa Depan Indonesia yang Tak Menentu

Foto: Adin.

Usai Universitas Negeri Malang semalam, malam ini giliran IAIN Surakarta yang berlokasi di Kartasura mendapatkan “iya” dari Cak Nun dan KiaiKanjeng. Sinau Bareng malam ini adalah satu mata rantai di antara perjalanan panjang Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam menemani masyarakat.

Sementara ini, diharapkan bagi mahasiswa dan civitas akademika IAIN Surakarta Sinau Bareng ini menjadi satu milestone tersendiri yang melengkapi, memperkaya, atau memperdasar kembali ilmu pengetahuan yang selama ini digeluti.

Bekal Keindonesiaan Untuk Masa Depan yang Mungkin Lebih Sulit

Foto: Adin.

Rasanya memang lebih enak dan lebih maksimal daya capainya, bila kuliah umum atau studium general disampaikan dengan formula Maiyahan, ketimbang ceramah satu arah yang monoton dan mudah mengendur perhatian ketika mendengarkannya. Lagi pula ilmu tidak melulu terwakili oleh deretan kata-kata akademis yang terucapkan.

Kulliyah dan Jaami’ah KiaiKanjeng di Universitas Negeri Malang

Foto: Adin.

Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., Rektor UM, bersama beberapa wakilnya mendampingi Cak Nun di panggung dan menyaksikan bagaimana Cak Nun membukakan kunci-kunci dasar yang selayaknya dimiliki para mahasiswa baru agar dapat menjadi subjek yang memiliki konstruksi dan personal character dalam menjalani hari-harinya sebagai penimba ilmu di kampus.

Wong²an

“Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu”

Saya yakin akurasi masalahnya tidak pada apa yang diucapkan oleh Nusron. Apapun yang dia ucapkan, itu akibat. Yang perlu kita temukan adalah sebab-nya. Nusron, juga Ahok, bahkan Presiden dan Pemerintah secara keseluruhan, tidaklah benar-benar ada dan hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan merupakan representasi dari semacam sindikasi kekuatan dan niat kekuasaan serta modal sangat besar di belakangnya. Dengan idiom lain: Nusron hanya peluru, bukan bedilnya. Dia hanya mercon, ada tangan yang melemparkan dan membantingnya.

Pustaka Emha

YANG MENANG HARUS BANGSA INDONESIA

Beberapa bulan terakhir ini bangsa Indonesia seperti sedang suntuk bermain togel: 411, 1911, 212, 412, 1012 dan mungkin akan berlanjut ke situasi yang bukan dramatisasi harmoni angka-angka, malah mungkin benturan antara angka dengan angka.

Mungkin bangsa Indonesia sedang mencari dirinya sendiri.

Penistaan atas Simbah

“Andaikan omongan kalian tadi di depan orang banyak”, saya meneruskan, “bisa jadi akan ada cucu Simbah yang lain entah siapa, melaporkan kalian dengan kasus penistaan atas Simbah”

“Kalimat yang mana yang menistakan Simbah?”, Beruk bertanya.

“Pasal hukum dalam undang-undang yang berlaku di Negara kita yang mana yang mau dipakai?

Jejak Mbah Kayam dan Mbah Bakdi

Waji’an tenan. Saya repot-repot angkat mereka jadi anak saya, malah nranyak mengejek dan meremehkan kemampuan Bapaknya. Kalau saya orang Solo, saya semprot “Bajinguk kowe Le”. Kalau saya pakai bahasa asal usul kampung halaman saya di Jawa Timur, saya slentik mereka dengan “Jangkrik Meduro, koen”.

Patrap dan Atlas Nilai Yogya

Akhirnya semua bubrah. Tentu saya tidak boleh memaksakan kehendak. Jadinya kami duduk melingkar.

“Kok bikin Atlas gimana tho Mbah?”, Gendon mengejar.

Saya harus menjawab, meskipun sesungguhnya anak-anak saya itu sudah tahu. Tetapi pengetahuan tidak bisa diketahui kebenarannya kalau tidak terletak pada koordinat ruang dan waktu yang tepat.

Kenalkan: Gendon, Pèncèng dan Beruk

Secara khusus di tengah malam saya menyerat tiga anak angkat saya, Gendon, Pèncèng dan Beruk, untuk naik ke leher Gunung Merapi. Pasukan khusus dan elite SAR-DIY saya minta mengantarkan dan mengawal kami, sebab mustahil saya dan anak-anak bisa sampai ke sana tanpa bantuan mereka.

Khasanah

Penjajahan Cara Berpikir Struktural

Empat Tahapan Manusia

Penjajahan atas manusia Indonesia di mana Ummat Islam merupakan mayoritas dari bangsa Indonesia di negara Indonesia, telah berlangsung sangat lama dengan bentuk yang sangat beragam di segala bidang. Penjajahan itu berlangsung secara sistematis, strategis, dan menusuk hingga ruang privat dalam jangka waktu yang sangat lama.

Cara Berpikir Kita Sedang Dikendalikan

Piramida distribusi kekayaan dunia

Krisis ekonomi 2008 yang mengguncang Amerika Serikat dan berimbas ke berbagai negara terutama Eropa hingga Asia, semakin menyadarkan berbagai pihak di sana. Bahwa sistem ekonomi dan tata dunia yang dibangun pada peradaban ini patut dipertanyakan kembali. Upaya analisis dilakukan mulai dari hal yang paling mendasar.

Nilai Seni yang Tergilas Kapitalisme Global

Pameran Kaligrafi di Langit Art Space Jogja

Ayat seni itu seharusnya mengandung batasan nilai kebenaran. Bukan kebenaran manusia, tapi kebenaran yang sejati: kebenaran Allah. Seni kontemporer di era global, mengikuti kaidah-kaidah global tentang sebuah tatanan masyarakat bersifat trans-nasional yang tidak dibatasi ras, suku, budaya, bahasa, teritorial negara, agama.

Eskatologi Hidup Wajib Abadi

Dalam dua bulan terakhir ini pada pertemuan-pertemuan Maiyahan, Cak Nun cukup intens mengemukakan pemahamannya tentang kholidina fiha abada (kekal di dalamnya dan abadi). Lebih dari sekadar mengingatkan bahwa hidup manusia tak sebatas pada jengkal ruang waktu di dunia ini, Cak Nun mengingatkan bahwa sesudah mengalami transformasi melalui kematian, manusia akan memasuki tahap selanjutnya yakni akhirat dan di sana akan berlangsung secara kekal dan abadi, sebuah kekekalan dan keabadian yang dikehendaki oleh Allah.

Khilafah Yang Sebenar-Benarnya

Pada tulisan sebelumnya, Indonesia Itu Benar-benar “Khilafah”, saya sudah coba paparkan bahwa khilafah berarti agency of atau representasi dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang menjadi representasi sesuatu yang lain, maka disebut khalifah-nya.

Alam semesta bisa kita sebut sebagai represantasi Allah, karena dan sehingga kita bisa mengenal Allah Swt lewat alam semesta dengan memandangnya, meng-akal-kannya dan me-rohani-kannya.

Mènèk Blimbing

PadhangmBulan, Sumur Kesadaran

Hawa dingin yang menusuk tidak membuat jamaah Kenduri Cinta beranjak meninggalkan acara. Entah jenis kesetiaan macam apa yang mereka miliki hingga masih rela berkumpul di Taman Ismail Marzuki, meski waktu sudah menggelinding ke dinihari.

Asepi

Tajuk

Simpul Maiyah